MENGINGAT KEMATIAN DAN MENYIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA (bagian 1)

Oleh : Imam al-Qurthubi

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, hanya tidak ada di antara kita yang mengetahui kapan kematian itu akan datang

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…”[i]

Karena kematian itu pasti akan tiba, maka Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita semua agar selalu mengingatnya dan menyiapkan diri dengan bekal setelah kematian itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian).”[ii]

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita semua agar selalu mengingat yang memutuskan atau mengalahkan atau menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian yang suatu saat pasti akan tiba, bahkan seringkali datang tanpa terduga dan secara tiba-tiba. Ibnu Umar RA berkata: “Aku sedang duduk bersama Rasulullah, maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar, lalu ia memberi salam kepada Nabi seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama? Beliau menjawab:

أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

‘Yang paling baik akhlaknya.’

Ia bertanya lagi, ‘Mukmin seperti apakah yang paling cerdas? Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولئِكَ اْلأَكْيَاسُ

Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas.”[iii]

Inilah standar kecerdasan yang sebenarnya, yaitu tidak pernah melupakan sesuatu yang pasti akan tiba dan menyiapkan diri dengan sebenarnya untuk hal itu. Tanpa adanya persiapan diri untuk kematian itu, tentu hanya sekedar mengingat tidak banyak berguna dan tidak bermanfaat. Oleh karena itu, cobalah kita bercermin untuk melihat diri kita sendiri, sebelum orang lain, apakah kita sudah memulai untuk melaksanakan perintah Rasulullah SAW ini? Kalau kita sudah memulainya, kalau sudah, lalu bagaimana dengan orang-orang terdekat kita?

Para ulama rahimahullah berkata: sabda Rasulullah SAW yang berbunyi “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian).” Merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasehat, maka orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan dan menghalanginya berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia yang semu. Akan tetapi jiwa yang kosong dan hati yang lupa membutuhkan nasehat yang panjang dan kalimat yang indah. Jika tidak demikian, maka dalam sabda Nabi Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)” dan firman Allah SWT:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…”

Sudah cukup sebagai nasehat yang utama.

Khalifah Umar bin Khaththab RA sering membuat perumpamaan dengan bait-bait sya’ir berikut ini:

Tidak ada sesuatu yang engkau lihat tetap keceriaannya

Tuhan tetap kekal sedangkan harta dan anak akan binasa

Perbendaharaan harta yang dimiliki Hurmuz[iv], tidak bisa memberi manfaat kepadanya walau hanya satu hari

Dan keabadian yang diusahakan oleh kaum ‘Aad, maka mereka tetap tidak bisa kekal

Tidak pula Nabi Sulaiman AS saat angin bertiup untuknya

Sedang jin dan manusia datang di antaranya

Di manakah para raja yang karena kebesarannya

Setiap utusan datang kepadanya dari setiap penjuru?

Telaga yang ada di sana pasti akan didatangi, bukan dusta

Suatu hari pasti mendatanginya, sebagaimana diriwayatkan

[1] Ali ‘Imran 185.

[1] HR. an-Nasa`i 4/4, at-Tirmidzi 2307, Ibnu Hibban 2992, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (3434).

[1] HR. Ibnu Majah (4259) dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.

.

*لمرجع: التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة للإمام القرطبي ، دار الحديث – القاهرة حقيق عصام الدين الصبابطي، ط 1 -1424هـ

at-Tadzkiran fi ahwalil mauta wa umuril akhirah (Peringatan tentang kondisi orang-orang yang mati dan keadaan akhirat), bab: Dzikrul maut wal isti’dad lahu (mengingat mati dan menyiapkan diri untuknya) diterjemahkan oleh Moh. Iqbal Ghazali (islamhouse.com)


[i] Ali ‘Imran 185.

[ii] HR. an-Nasa`i 4/4, at-Tirmidzi 2307, Ibnu Hibban 2992, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (3434).

[iii] HR. Ibnu Majah (4259) dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: