KEBAHAGIAAN HAKIKI

Penulis: Khodir Nurussalim

Merupakan suatu hal yang dituntut dan didamba-dambakan dalam kehidupan, dimana setiap insan manusia sangat berkeinginan untuk mendapatkannya.  Lebih-lebih bagi mereka yang tergolong insan akademik, insan yang terpelajar dan insan cendekia, sehingga upaya untuk mencapai apa yang didamba-dambakan tersebut mereka lakukan dengan segala daya dan upaya tidak lain supaya dapat menggapai hasil yang telah dicita-citakan.

Namun kita kadangkala cenderung kepada hal yang demikian dan memahami bahwa  itulah wujud suatu usaha yang nantinya akan menuju/membawa kita menjadi bahagia tanpa kita barengi dengan kekuatan dan banteng yang kokoh dari bimbingan syari’at, kita kadang terlalu percaya diri dan bahkan kadang-kadang kita berani menjamin diri kita, bahwa kita pasti akan mencapai apa yang kita upayakan dengan modal semangat dan tekad yang tinggi.

Ketahuilah bahwa apa yang kita upayakan tersebut membutuhkan bimbingan syari’at, dan kita harus yakini pulajika kita mencapai apa yang kita kejar itu, itu hanyalah kebahagiaan sementara dan akan meninggalkan kita baik dalam waktu yang cepat atau lambat, kalaulah dia tidak meninggalkan kita maka pasti kita yang akan meninggalkannya (yakni ketika kita meninggal).


Dan perlu di garis bawahi bahkan dari kebahagiaan yang semu itu ada kebahagiaan yang lebih baik yang harus kita upayakan untuk meraihnya dan dia kekal abadi, yaitu kebahagian yang hakiki, yang jika kita lakukan/tujui dengan berpegang teguh dengan syari’at, kita akan memperolehnya baik di dunia dan di akhirat nanti, maka jadilah kita orang yang beruntung.

Dan tidaklah suatu kebahagiaan dapat diraih melainkan hanya dengan cara mengikuti syari’at yang telah Allah–‘azza  wa jalla- turunkan melalui Rasul-Nya.
Allah –‘azza  wa jalla- berfirman:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada disuatu syari’at dari urusan itu, maka ikutilah
syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui,” (Al-Jatsiyah:18).

Asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir As-Sa’di–rahimahullah- berkata: “Kemudian Kami syari’atkan kepadamu dengan syari’at yang sempurna yang  mengajak kepada
kebaikan dan mencegah dari kejelekkan, dari perkara yang Kami syari’atkan (maka ikutilah), karena dengan mengikutinya itu terdapat kebahagiaan yang abadi, kebaikan
dan keberuntungan.” (Taisīr Al-Karīmirrahman, hal.777).

Allah –‘azza  wa jalla- berfirman: “Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku! Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran:31).
Asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir As-Sa’di–rahimahullah- berkata: “Barangsiapa tidak mengikutiAr-Rasul maka dia tidaklah mempunyai kecintaan kepada Allah, karena kecintaan kepada Allah mewajibkan baginya untuk mengikuti  syari’at Rasul-Nya.”  (Taisīr Al-Karīmirrahman, hal. 128).

Barangsiapa mencintai Allah dan mengikuti syari’at Rasul-Nya maka mereka termasuk dalam firman Allah:
“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah.”
(Al-Ma’idah: 54).
Asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir As-Sa’di–rahimahullah- berkata: “Sesungguhnya kecintaan Allah kepada hamba adalah disegerakannya  ni’mat-ni’mat atas hamba tersebut. Dan jika Allah mencintai hamba maka Allah mudahkan bagi hamba tersebut untuk (melakukan) sebab-sebab dan dimudahkan atasnya dari semua kesulitan dan membimbingnya kepada perbuatan yang baik dan (dalam) meninggalkan kemungkaran-kemungkaran.”  (Taisīr Al-Karīmirrahman, hal. 235).

Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan bersungguh-sungguh sedang ia mukmin, maka mereka itu usahanya dibalasi dengah baik.” (Al-Isra’: 19).

Subhanallah, tidakkah kita merasa terpanggil dengan seruan tersebut, bukankah hujjah dari Allah telah sampai kepada kita? Ingatlah Allah –‘azza wa jalla- telah menurunkan
hujjah yang sangat kokoh sebagai peringatan kepada kita, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh telah datang kepada kalian hujjah dari Rabb kalian, maka barang siapa melihat(kebenaran) maka (manfaatnya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang buta (tidak melihat kebenaran itu), maka mudharatnya kembali kepadanya.”
(Al-An’am: 104).
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Allah–‘azza wa jalla- mengkhabarkan bahwa bersamaan kebaikan-kebaikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, Allah memperkenalkan kepada hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat-Nya
yang jelas dengan hujjah-hujjah-Nya yang  terang.”
(Taisirul Karimirrahman, hal. 67).

Dan inilah kabar yang baik bagi kita, bagaimana tidak Allah telah memperingatkan kita dan telah menjamin akan suatu kebenaran dan kejelasannya yang kita anut ini, maka hendaklah kita optimis terhadap apa yang telah Rasulullah–shallallahu ;alaihi wa sallam- sabdakan:
“Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan maka hendaklah ia memuji Allah dan barang siapa yang mendapatkan yang selain itu, maka janganlah ia mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.”
(HR. Muslim, no. 4674).

Maka ambillah pelajaran dari pengalanmu! Dan apa saja yang pernah engkau lalui dari perjalanan hidupmu itu, yang pahit maupun yang manis, yang pedih atupun yang indah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimyah–rahimahullah- berkata: Sesungguhnya fitnah hanya akan diketahui kejelekannya apabila telah berlalu adapun apabila sedang terjadi nampak indah dan dikira di dalamnya terdapat kebaikan. Maka
apabila seseorang telah merasakan kejelekannya,kepahitannya dan bencananya, maka akan menjadi penerangbaginya untuk tidak mengulangi hal yang serupa.” (Minhajus
Sunnah: 4/408 dengan tahqiq Muhammad-Rasyad Salim).

Semoga nasehat yang ringkas ini dapat memberi manfaat kepada penulis dan kepada para pembaca.

Wallahul musta’an.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: