Anjuran Mengikuti Sunnah dan Akibat Menyelisihinya

Oleh : Ibnu Ghazali Al bnjy

Dari Abu Najih al-‘Irbadh bin Syariyah, ia mengatakan, “ Rasulullah memberikan nasehat kepada kami dengan satu satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat mata menangis karenanya. Maka kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka berwasiatlah kepada kami.’ Beliau bersabda,Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah seorang hamba sahaya. sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al Mahdiyyin (para khalifah yg lurus lagi mendapat petunjuk). Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Dan hati-hatilah terhadap perkara-perkara yg diada-adakan (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.’” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, dan ia mengatakan,“Hadistinihasanshahih).

Perintah mengikuti sunnah telah disampaikan dalam hadits diatas. Seperti kita ketahui bersama, hukum pada dien ini adalah Alqur’an dan Sunnah. Apa-apa yang tidak ada penjelasan dalam Al Qur’an maka akan kita ketahui dari apa yang disampaikan dan diamalkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam melalui haditsnya, seperti adanya kewajiban bagi umat islam untu menegakkan shalat yang diperintahkan oleh Allah melalui Al Qur’an maka untuk mengetahui kaifiyat dan waktunya maka diperoleh dari penjelasan hadits.

Alhafidz Imam As Suyuthi berkata bahwa Al-Qur’an membutuhkan As-Sunnah adalah bahwa As-Sunnah menerangkan Al-Qur’an, As-Sunnah merinci segala ungkapan yang bersifat umum dalam Al-Qur’an, karena ungkapan dalam Al-Qur’an adalah ringkas dan padat hingga dibutuhkan seseorang yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam Al-Qur’an untuk diketahui dan yang mengetahui hal itu tidak lain hanyalah manusia yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang dimaksud dari ungkapan bahwa As-Sunnah memutuskan (menetapkan) Al-Qur’an, dan Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menerangkan As-Sunnah dan bukan untuk memutuskan (menetapkan) As-Sunnah, karena As-Sunnah sudah jelas dengan sendirinya, karena As-Sunnah belum sampai pada derajat Al-Qur’an dalam hal keringkasan dan dalam hal keajaibannya, karena As-Sunnah merupakan penjelasan Al-Qur’an, dan sesuatu yang menerangkan haris lebih jelas, lebih terang dan lebih mudah daripada yang diterangkan. Wallahu a’lam.

Maka dari itu untuk mengikuti sunnah rasul adalah kewajiban bagi umat ini tanpa adanya pengurangan atau melebih-lebihkan maknanya. Mentaati Rasul maka menjadi bagian mentaati Allah.

Al-Baihaqi berkata : ” Bahwa keterangan tentang ketaatan kepada Allah adalah dengan mentaati utusan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menetapi janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. [Al-Fath : 10]

Dan firman-Nya.

“Artinya : Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. [An-Nisaa : 80]

Pengertian Sunnah

Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani dalam kitabnya Mengupas Sunnah, Membedah Bid’ah memberikan pengertian, Sunnah itu memiliki penganut. Dan para penganutnya memiliki aqidah atau keyakinan dan selalu bersatu di atas kebenaran yaitu Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sunnah secara bahasa artinya adalah jalan atau riwayat hidup, baik ataupun buruk. Sementara sunnah menurut istilah para ulama aqidah Islam adalah petunjuk yang dijalani oleh Rasulullah dan para sahabat beliau ; dalam ilmu, amalan, keyakinan, ucapan dan perbuatan. Itulah ajaran sunnah yang wajib diikuti dan dipuji pelakunya, serta harus dicela orang yang meninggalkannya. Oleh sebab itu dikatakan ; si Fulan temasuk Ahlus Sunnah. Artinya, ia orang yang mengikuti jalan yang lurus dan terpuji.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menyatakan : “Sunnah adalah jalan yang dilalui, termasuk diantaranya adalah berpegang teguh pada sesuatu yang dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Al-Khulafa Ar-Rasyidun, berupa keyakinan, amalan dan ucapan. Itulah bentuk sunnah yang sempurna”. [Jami’ul Ulumiwal Hikam I : 120]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan : “Sunnah adalah sesuatu yang ditegakkan di atas dalil syari’at, yakni ketaatan kepada Allah dan RasulNya, baik itu perbuatan beliau, atau perbuatan yang dilakukan di masa hidup beliau, atau belum pernah beliau lakukan dan tidak pula pernah dilakukan di masa hidup beliau karena pada masa itu tidak ada hal yang mengharuskan itu dilakukan pada masa hidup beliau, atau karena ada hal yang menghalanginya”.[Majmu’ Al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah XXI : 317]

Dengan demikian perngertian itu, berarti adalah mengikuti jejak Rasulullah secara lahir dan batin, dan mengikuti jalan hidup orang-orang terdahulu dari generasi awal umat ini dari kalangan Al-Muhajirin dan Al-Anshar.

Pendapat 4 Imam tentang Mengikuti Sunnah dan larangan Menyelisihinya

Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit rahimahullah melalui muridnya telah meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandung satu tujuan, yaitu kewajiban berpegang pada Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap membeo (taklid) pendapat-pendapat para imam bila bertentangan dengan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara ucapan beliau adalah :

“Artinya : Jika suatu Hadits shahih, itulah madzhabku”.

“Artinya : Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya”


Pada riwayat lain dikatakan bahwa beliau mengatakan : “Orang yang tidak mengetahui dalilku, haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa”. Pada riwayat lain ditambahkan : “Kami hanyalah seorang manusia. Hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya”. Pada riwayat lain lagi dikatakan : “Wahai Ya’qub (Abu Yusuf), celakalah kamu ! Janganlah kamu tulis semua yang kamu dengar dariku. Hari ini saya berpendapat demikian, tapi hari esok saya meninggalkannya. Besok saya berpendapat demikian, tapi hari berikutnya saya meninggalkannya”.

Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan ” Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu”.

“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah ; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah”.

“Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri”.

Imam Syafi’i rahimahullah dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus dalam meriwayatkan tentang pentingnya mengikuti apa yang disampaikan Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berpesan antara lain :.


[a] “Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku”


[b] “Seluruh kaum muslim telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadits dari Rasulullah tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang”

[c] “Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan Hadits Rasulullah, peganglah Hadits Rasulullah itu dan tinggalkan pendapatku itu”


[d] “Bila suatu masalah ada Haditsnya yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kalangan ahli Hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati”


[e] “Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi Hadits Nabi yang shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna”


[f] “Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadits Nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku”

Sebagai tambahan perkataan Imam Syafi’i :”Apabila kalian menemui sunnah Rasullulah Saw, maka ikutilah jangan hiraukan pendapat siapa pun (kitab alhilyah)”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata tentang pentingnya mengikuti sunnah :

[a]”Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.

Pada riwayat lain disebutkan :

[b]”Janganlah kamu taqlid kepada siapapun mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima)” Dikesempatan lain dia berkata : “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang dari para tabi’in boleh dipilih”.

[c]”Barangsiapa yang menolak Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berada di jurang kehancuran”

Syaikh Albani rahimahullah memberikan penjelasan diatas, pernyataan para imam dalam menyuruh orang untuk berpegang teguh pada Hadits dan melarang mengikuti mereka tanpa sikap kritis. Pernyataan mereka itu sudah jelas tidak bisa dibantah dan diputarbalikkan lagi. Mereka mewajibkan berpegang pada semua hadits yang shahih sekalipun bertentangan dengan sebagian pendapat mereka tersebut dan sikap semacam itu tidak dikatakan menyalahi madzhab mereka dan keluar dari metode mereka, bahkan sikap itulah yang disebut mengikuti mereka dan berpegang pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Akan tetapi, tidaklah demikian halnya bila seseorang meninggalkan Hadits-hadits yang shahih karena dipandang menyalahi pendapat mereka. Bahkan orang yang berbuat demikian telah durhaka kepada mereka dan menyalahi pendapat-pendapat mereka yang telah dikemukakan di atas.

Akibat Menyelisihi Sunnah

Menyelisihi sunnah Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah dilarang di dalam dien ini, jika hal ini terjadi maka akan semakin mendekatkan pelakunya kepada bid’ah, syirik bahkan kekufuran. Seperti apa yang tercantum dalam Alqur’an. Allah berfirman :

“ Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih (An Nur:63)”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali oarng yang enggan, Beliau ditanya, Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”, Belaiau menjawab , “Barangsiapa taat kepadaku, niscaya masuk surga dan barang siapa yang ingkar niscaya masuk neraka (HR. Bukhari)”

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah berkata : “Allah mengancam orang-orang yang meneyelisihi sunnah akan ditimpakan musibah terhadap akalnya, penglihatannya, diennya, jasadnya, dan harta mereka, karena berpaling dari apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Sementara itu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkomentar masalah ini : “Hendaklah orang berhati-hati terhadap orang yang menyelisihi sunnah, akn mendapatkan fitnah, yaitu kekufuran dan kesyirikan.”

Dampak lain dari menyelisihi sunnah adalah tertolaknya amal atau ibadah yang dikerjakan, karena selain ikhlas karena Allah ta’ala mengikuti sunnah (ittiba’) merupakan syarat mutlak diterimanya amal atau ibadah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim). Dan bukan amalan yang dilakukan justru cenderung kepada memunculkan perkara baru dalam agama ini. Maka perhatikanlah setiap amal yang dilakukan, karena tidak ada suatu kebaikanpun yang telah terlewatkan melainkan sudah disampaikan Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Jika sudah seperti itu, maka mengikuti sunnah walaupun sedikit itu lebih baik dibandingkan melakukan ibadah yang banyak tetapi bid’ah. Dan beribadahlah sesuai kemampuan tinggalkan segala apa yang dilarang Allah dan RasulNya.

Daftar Rujukan :

  1. Ushul Tsalasah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

  2. I’lamul Muwaqqin, Ibnu Qayyim Aljauziyah

  3. almanhaj.or.id, bab as-sunnah

  4. Majalh Elfata edisi 01 volume 08 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: