Perdukunan Meruntuhkan Aqidah

Oleh : Rachmadi Al Arlany

Indonesia adalah tempat yang subur untuk perdukunan. Negara ini seolah terbelenggu dengan perdukunan. Ketika seorang hendak menjual tanahnya saja, dengan alasan yang tidak dapat diterima harus mendatangi dukun, lalu ada pula orang yang ingin  usahanya lancar, menginginkan agar jabatannya bertahan, ingin memiliki kewibawaan dan ditakuti bawahan, juga terkadang harus pergi ke dukun. Walaupun mungkin sebutan dukun sekarang kalah populer dengan paranormal, penasehat spiritual, orang pintar dan lain sebagainya. Kondisi demikian diperparah lagi dengan kondisi  mayoritas media informasi yang ada di negeri ini baik media cetak, elektronik atau lainnya. Selain  menampilkan berbagai bentuk kemaksiatan tetapi juga memberi andil dalam menyebarkan penyimpangan-penyimpangan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin. Yaitu berupa berbagai acara, artikel, maupun iklan yang mempromosikan praktek-praktek perdukunan yang dihias-hiasi dengan istilah pengobatan, kekuatan pikiran/konsentrasi dan lain-lain.


Pada saat ini sering kita saksikan dengan terang-terangan di media televisi, berbagai informasi yang menawarkan jasa ramal nasib dan sebagainya dengan cara mendaftarkan diri terlebih dahulu lalu kemudian sang juru ramal akan memberitahukan kejadian yang akan datang atau yang berkaitan dengan masa depan seseorang melalui kombinasi nama dan nomor handphone yang telah didaftarkan tersebut. Sungguh merupakan fenomena yang menyedihkan, namun yang lebih ironisnya program tersebut justru mendapat sambutan dari masyarakat. Dan  terkadang ada dari kalangan kaum muslimin yang terjebak dan mau-mau saja mengikuti program yang menyesatkan aqidah tersebut. Na’udzubillahi min dzalik.

            Ketahuilah saudaraku -semoga Allah melindungi kita- bahwa sesungguhnya umat nabi Muhammad SAW, Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak percaya kepada dukun, tukang ramal dan orang pintar. Hal ini seperti yang dikatakan oleh imam Thahawy dalam kitabnya Syarah Aqidah Thohawiyah (hal : 79). Beliau mengatakan : “kita tidak mempercayai ucapan kahin (dukun) atau pun ‘Arraf (tukang ramal ), demikian juga setiap orang yang mengakui sesuatu yang menyelisihi Kitab dan Sunnah serta Ijma’ kaum muslimin”.

            1.Kahin (dukun)

Kahin (dukun) adalah orang yang mengambil informasi dari syaithon yang mencuri pendengaran dari langit. Atau dapat dikatakan, dukun adalah orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara ghaib yang akan terjadi dimasa yang akan datang atau memberitahukan perkara-perkara yang tersimpan dalam hati manusia.

Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-utsaimin (wafat tahun 2002 M), seorang ‘ulama Saudi Arabia, yang juga anggota Hai’ah kibaril ‘ulama mengatakan bahwa : kahanah (perdukunan) dengan wazan fa’alah diambil dari kata takahun, yaitu mengada-ada dan mencari suatu hakikat dengan urusan-urusan yang tidak ada dasarnya (Majmu’Fatawa : solusi problematika umat islam seputar aqidah dan ibadah. Halaman : 167. Penerbit : Pustaka Arafah).

Proses perdukunan yang banyak terjadi pada kita sekarang ini, sebenarnya adalah berita yang dikhabarkan oleh jin-jin kepada para antek-anteknya dari kalangan  manusia, tentang berita ghaib yang yang terjadi dimuka bumi ini, maka orang-orang awam mengatakan bahwa itu adalah Kasyf (penyingkapan hal-hal Ghaib) dan karamah.

Dan sungguh kebanyakan manusia telah tertipu dengan hal ini. Sesungguhnya mereka yang ditolong Allahlah yang selamat dari perkara ini. Ahlusunnah mengakui dan meyakini bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan makhluk baik didunia ini maupun dilangit yang mengetahui perkara ghaib, tidak itu dari kalangan mala’ikat atau pun para rasul yang diutus terkecuali sebatas apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepada para rasul dan para malaikat tersebut.

 

Allah SWT, berfirman :

” Katakanlah : ” tidaklah ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka dibangkitkan”.

(QS.An naml : 65).

 

Sesungguhnya perkara-perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui. Dan ini adalah hak prerogatif Allah semata, selain makhluk yang Ia beritahukan tentangnya, seperti sebagian Malaikat dan para Rasul sebagai mukjizat.

 Dalam hal ini, Allah berfirman :

“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.” (QS. Al Jin : 26-27)

Barangsiapa mengaku mengetahui perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan sebagaimana ayat di atas, maka ia telah kafir. Baik mengetahuinya dengan perantaraan membaca garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan ilmu perbintangan atau selain itu. Yang terakhir ini yang biasa dilakukan oleh paranormal. Bila ada orang sakit bertanya kepadanya tentang sebab sakitnya maka akan dijawab : “Saudara sakit karena perbuatan orang yang tidak suka kepada saudara.” Darimana dia tahu bahwa penyebab sakitnya adalah dari perbuatan seseorang, sementara tidak ada bukti-bukti yang kuat sebagai dasar tuduhannya? Sebenarnya hal ini tidak lain adalah karena bantuan jin dan para syaithan. Mereka menampakkan kepada khalayak dengan cara-cara di atas (melihat letak bintang, misalnya) hanyalah tipuan belaka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada yang mendatangi syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk dipersembahkan) … . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman : 25)

Dalam masalah perdukunan ini sungguh benar apa yang tertulis dalam kitabullah dan kabar  dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengenai syaithan yang mencuri berita dari langit.

Firman Allah SWT :

” Maukah aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta  yang banyak berdosa, mereka menyampaikan hasil  pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang-orang pendusta .(QS.Asy-Syu’ara’:221-223)

 

 Diceritakan dalam sebuah hadits :

“Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya : “Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Seorang dukun atau paranormal atau yang memberitakan perkara-perkara ghaib sebenarnya menerima kabar dari syaithan itu dengan jalan melihat letak bintang untuk menentukan atau mengetahui peristiwa-peristiwa di bumi, seperti letak benda yang hilang, nasib seseorang, perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang biasa disebut ilmu perbintangan atau tanjim. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

” … Kemudian melemparkan benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum menyerahkan berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah berita itu dengan seratus kedustaan.” (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu).

 

 

2. ‘Arraf (Tukang Ramal)

            Arraf (tukang ramal) yaitu orang yang mengaku mengetahui tentang suatu hal dengan menggunakan isyarat-isyarat untuk menunjukkan barang curian , tempat barang hilang dan semacamnya. Sering disebut sebagai tukang ramal, ahli nujum, peramal nasib dan yang sejenisnya .[1]

            Telah diriwayatkan oleh imam Muslim dan Imam Ahmad, dari Shafiyyah binti Abi ‘Ubaid , dari salah seorang isteri nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda :

            ” Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal atau orang pintar lalu menanyainya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam.

Dari Abu Hurairah RA, Rasullullah SAW bersabda :

” Barang siapa yang mendatangi seorang peramal (orang pintar) atau dukun kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka orang itu telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. “(HR.Abu Daud)

 

            Didalam shahih Bukhari , dari hadis ‘Aisyah RA bahwa dia berkata : ‘ Abu Bakar pernah memiliki seorang lelaki yang makan upah dari yang diberikannya. Suatu hari budak itu datang menemuinya dengan membawa makanan. Lalu Abu Bakar memakannya .Budak itu tiba-tiba berkata kepadanya : ‘Tahukah kamu dari mana aku mendapatkan makanan itu ‘ Beliau Ra, balik bertanya : ‘Dari mana ? budak itu menjawab ‘Dahulu di masa jahiliyah aku pernah berlagak meramal untuk seseorang, padahal aku Cuma menipunya. Lalu dia menjumpai ku lagi dan memberikan upah itu . itulah dia yang anda makan tadi. Serta merta Abu Bakar memasukkan jari tangannya ke dalam mulut, sehingga beliau memuntahkan seluruh isi perutnya.”

 

            Perdukunan dan peramalan nasib tidak lepas dari kemusyrikan, sebab ia adalah proses yang termasuk mendekatkan diri kepada setan-setan dengan apa yang mereka cintai. Perbuatan tersebut termasuk syirik dalam hal rububiyahnya Allah karena mengakui bersekutu dengan Allah dalam masalah ilmu-Nya. Juga termasuk syirik dalam uluhiyah Allah karena pelakunya mendekatkan diri kepada selain Allah dengan suatu bentuk ibadah.

Orang yang datang kepada dukun dan tukang ramal terbagi kedalam tiga keadaan

Pertama : orang yang datang kepada dukun, lalu bertanya kepadanya tanpa membenarkannya, maka ini diharamkan, dan hukuman bagi pelakunya (yang datang kepada dukun meskipun tidak membenarkannya, shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam shahih Muslim, bahwa nabi SAW bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal atau orang pintar lalu menanyainya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam.

Kedua : orang yang datang kepada dukun, lalu bertanya kepadanya dan membenarakan apa yang dikatakannya, maka ini adalah kekafiran kepada Allah SWT, hal ini karena dia membenarkan dukun itu dalam hal pengetahuannya dalam mengetahui hal-hal ghaib. Dan pembenaran manusia dalam masalah klaim mengetahui ilmu ghaib adalah merupakan bentuk pendustaan terhadap firman Allah SWT:

” Katakanlah : ” tidaklah ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka dibangkitkan”.

(QS.An naml : 65).

Oleh karena itu disebutkan dalam hadis shohih :

” Barang siapa yang mendatangi seorang peramal (orang pintar) atau dukun kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka orang itu telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. ” (HR.Abu Daud).

 

Ketiga : orang yang datang kepada dukun untuk menerangkan kebenaran dan dengan maksud setelah dia berdialog dengan dukun itu, ia akan menerangkan kepada manusia tentang hal ihwal dukun itu. Dan menyampaikannya kepada manusia bahwa apa yang dilakukan dukun itu adalah kesesatan dan kebohongan. Maka hal ini tidaklah mengapa. Dalil tentang hal ini adalah bahwa suatu hari nabi didatangi Ibnu Shayyad, lalu nabi menyembunyikan sesuatu pada dirinya. Kemudian nabi bertanya kepadanya apa yang sedang beliau sembunyikan ? Ibnu Shayyad menjawab: Dukh -maksudnya adalah dukhan (asap) lalu nabi SAW bersabda : buanglah, sekali-kali kamu tidak akan bisa meninggalkan qadarmu” ( HR.Bukhari)

Saudaraku kaum mukminin -semoga Allah  menunjuki kita- Rasullullah SAW adalah sebaik-baik hamba dan orang yang paling bertaqwa di muka bumi ini. Allah SWT telah memilih beliau untuk mendakwahkan agama yang haq ini. Melalui perantaraan beliaulah agama ini menjadi sempurna, beliau adalah manusia yang Allah SWT memerintahkan  kita untuk mengikutinya. Namun beliau tetap tidak mengatakan bahwa beliau mampu mengetahui masa depan dan masalah-masalah ghoib kecuali hanya sebatas apa yang Allah SWT wahyukan kepadanya.

Firman Allah SWT :

 ” Katakanlah : ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku, dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman”‘ (QS.Al-A’raaf : 188).

 

Kalaulah seorang yang telah menjadi kekasih Allah dan langsung mendapatkan pujian dari Allah tentang akhlak beliau  sebagaimana Rasullullah SAW tidak mengetahui perkara yang ghaib maka bagaimana mungkin orang-orang yang derajat, kedudukan, ibadah, dan ketaqwaannya jauh berada dibawah beliau mengetahui apa yang tidak diketahui oleh beliau tentang perkara ghaib.

Oleh karena itu saudaraku kaum muslimin, layaklah bagi kita untuk kembali kepada ajaran yang beliau bawa. Hendaklah masing-masing kita terus berupaya untuk membenahi diri baik itu perkara ilmu maupun ibadah. Karena setiap jalan yang menunjukkan ke syurga pasti telah beliau jelaskan dan begitu juga dengan  jalan yang menyesatkan manusia dan menuai neraka pasti telah beliau terangkan pula. Tiada jalan kebenaran kecuali apa yang tercantum didalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa tetap menganurerahkan ridho dan nikmat-Nya  kepada kita baik didunia ini maupun diakhirat kelak. Amin

Shalawat dan salam semoga tetap atas nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, ahli keluarga beliau dan orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat kelak.

Maraji’

  1. Syarah Aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah. Penulis : Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit : Taqwa.
  2. Kitabut Tauhid . Penulis : Dr.Shalih Bin Fauzan Bin Abdullah Al-fauzan. Penerbit : Darul Haq.
  3. Majmu’ fatawa; solusi problematika umat islam seputar aqidah ibadah. Penulis : Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-utsaimin. Penerbit : Pustaka Arafah.
  4. Buletin Dakwah Al Atsary, Semarang Edisi X/Th.I
  5. Majalah SALAFY XIX/1418/1997/AQIDAH, ditulis oleh Ustadz Ahmad Hamdani


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: