DAKWAH SALAF BUKAN DAKWAH BARU

Dakwah Salaf bukanlah dakwah yang baru. Tetapi ia adalah dakwah Ahlus Sunnah. Yaitu dakwah haq yang dilakukan para sahabat. Dakwah Salaf mengajak ummat Islam berpegang kepada Sunnah nabi SAW, mengajak ummat untuk kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafus-Sholih.
Iman Buhkari Ra membuat suatu bab dalam shohihnya dengan judul “Ilmu Itu Sebelum Berbicara Dan Berbuat.” Oleh karena itu mari kita pelajari hal-hal berikut :
Defenisi Salaf, Salafi dan Salafiyyah
Menurut bahasa (etimologi), Salaf (xxx) artinya, yang terdahulu (nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama. Jadi Salaf artinya ialah para pendahulu.
Adapun menurut istilah (terminologi), kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (islam) ini. Mereka adalah para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasul SAW : “Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari,Muslim, dan Ahmad)
Menurut al Qalsyaani: “Salafush-Sholih adalah generasi pertama dari ummat ini, yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk nabi SAW, dan menjaga Sunnahnya..”
Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata dalam kitabnya, al ‘Aqidatul-Islamiyyah Bainas Salafiyyah wal Mu’tazilah: “Penetapan istilah Salaf tidak cukup dengan hanya dibatasi waktu saja, bahkan harus sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush-Sholih (tentang aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk, Pent). Barang siapa yang pendapatnya sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan suluknya (perilaku) menurut pemahaman Salaf, maka dia disebut Salafi, meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barang siapa yang pendapatnya menyalahi Al-Quran dan Sunnah, maka ia bukan seorang Salafi meskipun ia hidup pada zaman sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.”
Istilah Salafi dan Salafiyah adalah bentuk penisbatan kepada generasi Salaf. Jadi arti Salafi adalah orang yang menepaki jejak Salaf dan yang mengikuti petunjuk mereka. Salafiyyun jamak dari Salafi yang merupakan penisbatan kepada orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salaf dengan mengikuti Al-Quran dan Sunnah serta berdakwah kepada keduanya dan mengamalkanya, maka mereka itulah yang disebut sebagai ahlussunnah wal jama’ah.
Jadi Salaf bukan kelompok atau golongan/organisasi seperti yang difahami sebagian orang. Tetapi, Salaf adalah manhaj. Yaitu sistem hidup dalam ber’aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak, dan yang lainnya yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Maka wajar tidak ada stiker-stiker, atau logo maupun Mars yang berbau Salaf, karena Salaf bukanlah Hizbi atau golongan, melainkan sebuah manhaj. Salafiyyah bukan kelompok seperti jama’ah tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut tahrir atau yang lainnya yang memiliki pendiri dan tahun pendirian, tapi salafiyyah hanyalah metode yang berlandaskan kepada pemahaman Salafus Sholih dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang tidak memiliki pemimpin melainkan Rasulullah SAW.
Beberapa Dalil Wajibnya Mengikuti Salaf
Mengikuti manhaj Salaf bukanlah suatu hal yang mustahab (bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mengapa), tapi mengikuti jejak mereka dalam segala bidang baik dalam aqidah, ibadah, dakwah, jihad, muamalah, akhlaq dan lain-lain adalah suatu kewajiban bagi yang menginginkan hidayah dan keselamatan di dunia dan di akhirat.
Allah SWT berfirman : “Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah:100)
Di dalam ayat ini Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak Salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka. Allah SWT telah memperingatkan kita agar tidak menyelisihi jalan mereka, dan Allah mengancam orang yang menyelisihinya dengan api Jahannam, Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An-Nisa’:115)
Rasulullah SAW telah memerintahkan umatnya untuk mengkuti sunnahnya dan sunnah para khalifah sesudahnya. Beliau SAW bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalanku akan melihat perbedaan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat hidayah sesudahku. Pegang teguhlah sunnah tersebut dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, hati-hati kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Bolehkah Kita Menamakan Diri Sebagai Salafi Atau Salafiyyah?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Ra berkata: “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar.” (Majmu’ Fatawa 4/149)
Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bi Baz Ra pernah ditanya : “Bagaimana pendapat anda tentang orang yang menamakan dirinya Salafi dan Atsari, apakah ini termasuk memuji diri?” Beliau menjawab : “Apabila dia benar-benar sebagai pengikut Atsar dan pengikut Salaf maka tidak mengapa. Hal ini sama seperti ulama salaf mengatakan fulan salafi atau fulan atsari. Ini termasuk pujian yang mesti diberikan dan wajib.” (Syarah Aqidah Al-Wasithiyah 1/54)

Ciri-Ciri Salafi Sejati
Setelah dijelaskan di atas wajibnya mengikuti manhaj Salafus Sholih serta disyariatkan/dibolehkan menamakan diri sebagai Salafi, maka perlu disebutkan di sini ciri-ciri utama seorang yang bisa dikatakan sebagai Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, al-firqotun najiyah dan thoifah manshuroh :
1. Menjadikan Al-Quran dan sunnah sebagai pedoman hidup dalam segala perkara.
2. Memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para sahabat terutama dalam masalah aqidah.
3. Tidak menjadikan akal sebagai landasan utama dalam beraqidah.
4. Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid ibadah (Seruan hnya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah).
5. Tidak berdebat kusir dengan ahli bid’ah serta tidak bermajlis dan tidak menimba ilmu dari mereka.
6. Berantusias untuk menjaga persatuan kaum muslimin serta menyatukan mereka diatas Al-Quran dan sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Sholih.
7. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam bidang ibadah, akhlaq dan dalam segala bidang kehidupan hinggan merekapun terasing.
8. Tidak fanatik kecuali hanya kepada Al-Quran dan Sunnah.
9. Memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran.
10. Membantah setiap yang menyelisihi syariat baik dia seorang muslim atau nonmuslim.
11. Membedakan antara ketergelinciran ulama ahli sunnah dengan kesesatan para dai-dai yang menyeru kepada bid’ah.
12. Selalu taat kepada pemimpin kaum muslimin selama dalam kebaikan, berdoa untuk mereka serta menasehati mereka dengan cara yang baik dan tidak memberontak atau mencaci maki mereka.
13. Berdakwah dengan cara hikmah (Diantara makna hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Oleh karena itu dakwah tidak selalu dengan lemah lembut tapi terkadang harus dengan sikap tegas dan keras, semuanya disesuaikan dengan keadaan).
14. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama yang bersumberkan kepada Al-Quran dan sunnah serta pemahaman salaf, sekaligus meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi jaya melainkan dengan ilmu tersebut.
15. Bersemangat dalam menjalankan Tashfiyah (membersihkan Islam dari kotoran-kotoran yang menempel kepadanya seperti syirik, bid’ah, hadits-hadits lemah dan lain sebagainya) dan tarbiyah (mendidik umat di atas Islam yang murni terutama dalam bidang tauhid).
Wallahu a’lam bishowab…

Sumber/Referensi:
6 Pilar Utama Dakwah Salafiyyah, ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani
Ada Apa Dengan Salafi, Abu Umar Basyir
Jadilah Salafi Sejati, Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi
Majalah As-Sunnah Edisi 11/X/1428H/2007M
Majalah Adz-Dzakhiirah Al Islamiyah Edisi 20 Th. IV 1427H Juni-Juli 2006M

Satu Tanggapan

  1. Bismillah…
    Assalamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh-
    Berikut ini kami menginformasikan bahwa telah tersedia layanan MESIN PENCARI TERCEPAT dan TERBESAR khusus menyaring artikel/audio/milis berManhaj Salaf (silahkan kunjungi http://www.gsalaf.com) dan kami berharap sudi kiranya membantu menyebarkan informasi ini dengan memasang banner gsalaf diwebsite/blog/milis anda.

    demikian informasi ini kami sampaikan,semoga kerjasama ini dapat membantu kami menyebarkan dakwah.

    :Contoh kode HTML yang bisa ditempatkan ditautan blog/situs silahkan klink link dibawah ini: http://www.gsalaf.com/banner.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: