<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SYABAABUSSUNNAH</title>
	<atom:link href="http://syabaabussunnah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com</link>
	<description>Ilmiyah...Amaliyah...Salafiyyah...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Nov 2009 05:49:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='syabaabussunnah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0d9fa394fae293b4a41a0a9f5158f637?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SYABAABUSSUNNAH</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mengendalikan Lidah</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/11/07/mengendalikan-lidah/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/11/07/mengendalikan-lidah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 05:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Ustadz Abu Isma&#8217;il Muslim al-Atsari
NIKMAT LIDAH
Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala telah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang sangat banyak dan besar. Di antara nikmat Allah yang terbesar, setelah nikmat iman dan Islam, ialah nikmat berbicara dengan lidah, nikmat kemampuan menjelaskan isi hati dan kehendak.
Allah Ta&#8217;ala berfirman:
&#8220;Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur`aan. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=483&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh<br />
Ustadz Abu Isma&#8217;il Muslim al-Atsari</p>
<p>NIKMAT LIDAH<br />
Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala telah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang sangat banyak dan besar. Di antara nikmat Allah yang terbesar, setelah nikmat iman dan Islam, ialah nikmat berbicara dengan lidah, nikmat kemampuan menjelaskan isi hati dan kehendak.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur`aan. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara&#8221; [Ar-Rahmân/55:1-4]</p>
<p>Penciptaan manusia dan pengajaran berbicara kepadanya benar-benar merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang besar. Oleh karena itulah, Allah juga menyebutkan nikmat-Nya tentang penciptaan alat-alat berbicara bagi manusia. <span id="more-483"></span></p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir&#8221;. [Al-Balad/90:8-9] [1]</p>
<p>LIDAH, SENJATA BERMATA DUA<br />
Meski lidah merupakan nikmat yang besar, namun kita perlu mengetahui, bahwasanya lidah yang berfungsi untuk berbicara ini seperti senjata bermata dua. Yaitu dapat digunakan untuk taat kepada Allah, dan juga dapat digunakan untuk memperturutkan setan.</p>
<p>Jika seorang hamba mempergunakan lidahnya untuk membaca Al-Qur`ân, berdzikir, berdoa kepada Allah, untuk amar ma&#8217;ruf, nahi munkar, atau untuk lainnya yang berupa ketaatan kepada Allah, maka inilah yang dituntut dari seorang mukmin, dan ini merupakan perwujudan syukur kepada Allah terhadap nikmat lidah.</p>
<p>Sebaliknya, jika seseorang mempergunakan lidahnya untuk berdoa kepada selain Allah, berdusta, bersaksi palsu, melakukan ghibah, namimah, memecah belah umat Islam, merusak kehormatan seorang muslim, bernyanyi dengan lagu-lagu maksiat, atau lainnya yang berupa ketaatan kepada setan, maka ini diharamkan atas seorang mukmin, dan merupakan kekufuran kepada Allah terhadap nikmat lidah.[2]</p>
<p>Dengan demikian, lidah manusia itu bisa menjadi faktor yang bisa mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan yang besar bagi pemiliknya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam&#8221;. [HR al-Bukhâri, no. 6478]</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar al-&#8217;Asqalani rahimahullah menjelaskan makna &#8220;dia tidak menganggapnya penting&#8221;, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu&#8221;. [Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits no. 6478]</p>
<p>BENCANA LIDAH<br />
Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada dua. Yaitu berbicara batil (kerusakan, sia-sia), dan diam dari al-haq yang wajib diucapkan.</p>
<p>Abu &#8216;Ali ad-Daqqâq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:</p>
<p>الْمُتَكَلِّمُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ</p>
<p>&#8220;Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu&#8221;.[3]</p>
<p>Orang yang berbicara dengan kebatilan ialah setan yang berbicara, ia bermaksiat kepada Allah Ta&#8217;ala. Sedangkan orang yang diam dari kebenaran ialah setan yang bisu, ia juga bermaksiat kepada Allah Ta&#8217;ala. Seperti seseorang yang bertemu dengan orang fasik, terang-terangan melakukan kemaksiatan di hadapannya, dia berkata lembut, tanpa mengingkarinya, walau di dalam hati. Atau melihat kemungkaran, dan dia mampu merubahnya, namun dia membisu karena menjaga kehormatan pelakunya, atau orang lain, atau karena tak peduli terhadap agama.</p>
<p>Kebanyakan manusia, ketika berbicara ataupun diam, ia menyimpang dengan dua jenis bencana lidah sebagaimana di atas. Sedangkan orang yang beruntung, yaitu orang yang menahan lidahnya dari kebatilan dan menggunakannya untuk perkara bermanfaat.</p>
<p>Bencana lidah termasuk bagian dari bencana-bencana yang berbahaya bagi manusia. Bencana lidah itu bisa mengenai pribadi, masyarakat, atau umat Islam secara keseluruhan.</p>
<p>Termasuk perkara yang mengherankan, ada seseorang yang mudah menjaga diri dari makanan haram, berbuat zhalim kepada orang lain, berzina, mencuri, minum khamr, melihat wanita yang tidak halal dilihat, dan lainnya, namun dia seakan sulit menjaga diri dari gerakan lidahnya. Sehingga terkadang seseorang yang dikenal dengan agamanya, zuhudnya, dan ibadahnya, namun ia mengucapkan kalimat-kalimat yang menimbulkan kemurkaan Allah, dan ia tidak memperhatikannya. Padahal hanya dengan satu kalimat itu saja, dapat menyebabkan dirinya bisa terjerumus ke dalam neraka melebihi jarak timur dan barat. Atau ia tersungkur di dalam neraka selama tujuh puluh tahun.[4]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ</p>
<p>Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka. [5]</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ<br />
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat&#8221;. [HR Muslim, no. 2988]</p>
<p>Alangkah banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang ia ucapkan. Lâ haula wa lâ quwwata illa bilâhil-&#8217;aliyyil-&#8217;azhîm.</p>
<p>Sebagai contoh, ialah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di bawah ini:</p>
<p>عَنْ جُنْدَبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ n حَدَّثَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ أَوْ كَمَا قَالَ</p>
<p>&#8220;Dari Jundab, bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menceritakan ada seorang laki-laki berkata: &#8220;Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni Si Fulan!&#8221; Kemudian sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni Si Fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni Si Fulan, dan Aku menggugurkan amalmu&#8221;. Atau seperti yang disabdakan Nab&#8221;i. [HR Muslim, no. 2621]</p>
<p>Oleh karena bahaya lidah yang demikian itulah, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengkhawatirkan umatnya.</p>
<p>عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا</p>
<p>&#8220;Dari Sufyan bin &#8216;Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: &#8220;Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Katakanlah, &#8216;Rabbku adalah Allah&#8217;, lalu istiqomahlah&#8221;. Aku berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?&#8221;. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: &#8220;Ini&#8221;.&#8221;[6]</p>
<p>Syaikh Husain al-&#8217;Awaisyah berkata: &#8220;Sesungguhnya sekarang ini, sesuatu yang manusia merasa amat tenteram terhadapnya ialah lidah mereka, padahal lidah yang paling dikhawatirkan Nabi n atas umatnya. Dan yang nampak, lidah itu seolah-olah pabrik keburukan, tidak pernah lelah dan bosan&#8221;.[7]</p>
<p>MENJAGA LIDAH<br />
Menjaga lidah disebut juga hifzhul-lisân. Lidah itu sendiri merupakan anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Lidah memiliki fungsi sebagai penerjemah dan pengungkap isi hati. Oleh karena itu, setelah Nabi n memerintahkan seseorang beristiqomah, kemudian mewasiatkan pula untuk menjaga lisan. Keterjagaan dan lurusnya lidah sangat berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang.</p>
<p>Di dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Mâlik , dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda:</p>
<p>لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ</p>
<p>&#8220;Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, ia tidak akan masuk surga&#8221;.[8]</p>
<p>Dalam hadits Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا</p>
<p>&#8220;Jika anak Adam memasuki pagi hari, sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: &#8220;Takwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami. Sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang&#8221; [9]</p>
<p>Oleh karena itu, seorang mukmin hendaklah menjaga lidahnya. Apa jaminan bagi seseorang yang menjaga lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.&#8221; [10]</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga menjelaskan, menjaga lidah merupakan keselamatan.</p>
<p>عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ</p>
<p>&#8220;Dari &#8216;Uqbah bin &#8216;Aamir, ia berkata: &#8220;Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah sebab keselamatan?&#8221; Beliau n menjawab: &#8220;Kuasailah lidahmu, rumah yang luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu&#8221;. [HR. Tirmidzi, no. 2406]</p>
<p>Maksudnya, janganlah berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikan, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan-ketaatan, dan hendaklah menyesali kesalahan-kesalahan dengan cara menangis. [11]</p>
<p>Imam an-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata: &#8220;Ketahuilah, seharusnya setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau makruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak dilakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak ada bandingannya.</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahîhain, al-Bukhaari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, ia bersabda:</p>
<p>مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ</p>
<p>&#8220;Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam&#8221;.</p>
<p>Hadits yang disepakati keshahîhannya ini merupakan nash yang jelas. Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang timbulnya maslahatnya, maka hendaklah ia tidak berbicara.</p>
<p>Imam asy-Syafi&#8217;i berkata: &#8220;Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum berbicara hendaklah ia berfiikir; jika jelas nampak maslahatnya, maka ia berbicara; dan jika ragu-ragu, maka tidak berbicara sampai jelas maslahatnya&#8221;.[12]</p>
<p>Selain itu, lidah merupakan alat yang berguna untuk mengungkapkan isi hati. Jika ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan lidahnya, isi pembicaraannya, dan hal itu akan menunjukkan isi hatinya, baik orang tersebut mau maupun enggan.</p>
<p>Diriwayatkan bahwasanya Yahya bin Mu&#8217;adz berkata: &#8220;Hati itu seperti periuk dengan isinya yang mendidih. Sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah ketika seseorang berbicara. Karena sesungguhnya, lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya&#8221;.[13]</p>
<p>PERKATAAN PARA SALAF TENTANG MENJAGA LISAN<br />
Sungguh, dahulu para salaf terbiasa menjaga dan menghisab lidahnya dengan baik. Dari mereka telah diriwayatkan banyak perkataan bagus yang berkaitan dengan lidah. Berikut ini ialah sebagian dari pembicaraan mereka, sehingga kita dapat memetik manfaat darinya.</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya &#8216;Umar bin al-Khaththab berkata: &#8220;Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya&#8221;.[14]</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Mas&#8217;ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu berkata: &#8220;Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah! Di muka bumi ini, tidak ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada lidah&#8221;.[15]</p>
<p>Diriwayatkan bahwasanya Ibnu Mas&#8217;ud berkata: &#8220;Jauhilah fudhûlul-kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang berbicara, menyampaikan sesuai kebutuhannya&#8221;.[16]</p>
<p>Syaqiq berkata: &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud bertalbiyah di atas bukit Shafa, kemudian berseru: &#8220;Wahai lidah, katakanlah kebaikan, niscaya engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah, niscaya engkau selamat, sebelum engkau menyesal&#8221;.</p>
<p>Orang-orang bertanya: &#8220;Wahai Abu &#8216;Abdurrahman, apakah ini suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?&#8221;</p>
<p>Dia menjawab, &#8220;Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulallah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda</p>
<p>أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ</p>
<p>(kebanyakan kesalahan anak Adam ialah pada lidahnya)&#8221;.[17]</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Buraidah berkata: &#8220;Aku melihat Ibnu &#8216;Abbas memegangi lidahnya sambil berkata, &#8216;Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal&#8217;.&#8221;[18]</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya an-Nakha`i berkata: &#8220;Manusia binasa pada fudhûlul-mâl (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhûlul-kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan)&#8221;.[19]</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan seorang &#8216;alim besar. Kemudian orang &#8216;alim itu ditanya tentang keadaannya, dia menjawab: &#8220;Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan. Yaitu, dahulu aku pernah mengatakan, &#8216;manusia sangat membutuhkan hujan&#8217;.&#8221; Aku ditanya: &#8220;Tahukah engkau bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap maslahat hamba-hamba-Ku?&#8221;[20]</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: &#8220;Seorang mukmin itu ialah menyedikitkan perkataan dan memperbanyak amal. Adapun orang munafik, ia memperbanyak perkataan dan menyedikitkan amal&#8221;.</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: &#8220;Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku&#8221;.</p>
<p>Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: &#8220;Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi&#8221;.[21]</p>
<p>Kesimpulannya, kita diperintah untuk berbicara yang baik dan diam dari keburukan. Jika berbicara, hendaklah sesuai dengan keperluannya. Wallahul-Musta&#8217;an.</p>
<p>Mashâdir:<br />
1. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, Dr. Sa&#8217;id bin &#8216;Ali bin Wahf al-Qahthani.<br />
2. Al-Adzkâr, Imam an-Nawawi, Tahqîq dan Takhrîj: Syaikh Salim al-Hilâli, Penerbit Dar Ibni Hazm, Cetakan Kedua, Tahun 1425H/2004M.<br />
3. Hashâ`idul-Alsun, Syaikh Husain al-&#8217;Awaisyah, Penerbit Darul-Hijrah.<br />
4. Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, Imam Ibnu Rajab, dengan penelitian Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm Bajis, Penerbit ar-Risalah, Cetakan kelima, Tahun 1414H/1994M.<br />
5. Dan lain-lain.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]<br />
________<br />
Footnotes<br />
[1]. Tafsir Adh-wâ`ul Bayân, karya Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. Lihat surat ar-Rahmân, 55/3-4.<br />
[2]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, Dr. Sa&#8217;id bin &#8216;Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 4-5, 159-160.<br />
[3]. Disebutkan oleh Ibnul-Qayyim dalam ad-Dâ` wad-Dawâ`, Tahqîq: Syaikh &#8216;Ali bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155.<br />
[4]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 5-6, 163.<br />
[5]. HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad, 2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: &#8220;Hasan shahîh&#8221;.<br />
[6]. HR Tirmidzi, no. 2410. Ibnu Majah, no. 3972. Dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani.<br />
[7]. Hashâ`idul-Alsun, Penerbit Darul-Hijrah, hlm. 15.<br />
[8]. HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13.<br />
[9]. HR Tirmidzi, no. 2407, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/17, no. 1521. Lihat pula Jami&#8217;ul &#8216;Ulûm wal-Hikam, 1/511-512.<br />
[10]. HR Bukhâri, no. 6474. Tirmidzi, no. 2408. Dan lafazh ini milik al-Bukhâri.<br />
[11]. Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi.<br />
[12]. Al-Adzkâr, Imam an-Nawawi. Tahqîq dan Takhrîj: Syaikh Salim al-Hilâli, Penerbit Dar Ibni Hazm, Cet. 2, Th. 1425H/2004M, 2/713-714.<br />
[13]. Hilyatul-Au&#8217;iyâ`, 10/63. Dinukil dari Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 159.<br />
[14]. Riwayat al-Qudha`i dalam Musnad asy-Syihab, no. 374. Ibnu Hibban dalam Raudhatul-&#8217;Uqala`, hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.<br />
[15]. Riwayat Ibnu Hibban dalam Raudhatul-&#8217;Uqala`, hlm. 48. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 340.<br />
[16]. Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.<br />
[17]. HR Thabrani, Ibnu &#8216;Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah ash-Shahîhah, no. 534.<br />
[18]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 161.<br />
[19]. Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.<br />
[20]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 160-161.<br />
[21]. Hashâ`idul-Alsun, hlm. 175-176.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=483&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/11/07/mengendalikan-lidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dampak Buruk Makanan Haram Bagi Seorang Muslim</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/11/07/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim-3/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/11/07/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 05:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[Era globalisasi banyak berpengaruh pada kehidupan seorang muslim, sadar atau tidak sadar mereka terseret ke dalam arusnya. Sehingga dijumpai banyak orang menyatakan: “Yang haram aja susah apalagi yang halal.” Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan mereka terhadap rahmat dan rizki Allah. Padahal Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=481&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Era globalisasi banyak berpengaruh pada kehidupan seorang muslim, sadar atau tidak sadar mereka terseret ke dalam arusnya. Sehingga dijumpai banyak orang menyatakan: “<em>Yang haram aja susah apalagi yang halal.</em>” Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan mereka terhadap rahmat dan rizki Allah. Padahal Allah dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menegaskan dengan sangat tandas sekali bahwa Allah akan mencukupkan rizki mereka dan tidak membebankan hal itu kepada pundak mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:</p>
<p><strong>وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ<br />
</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. </em><em>Al Ankabut</em><em>: 60)<span id="more-481"></span> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>dan firman-Nya</p>
<p><strong>مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan.” (QS. </em><em>Adz Dzariyat</em><em>:57)</em></p>
<p>Dalam dua ayat di atas jelaslah Allah sebagai pemberi rizki kepada semua makhluknya, lalu Ia mengutus Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang buruk dan jelek bagi manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:</p>
<p><strong>الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ<br />
</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. </em><em>Al a’raf</em><em>:157)</em></p>
<p><strong>Makanlah yang halal dan baik saja</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setelah mengetahui yang dihalalkan Allah adalah semua yang baik dan sebaliknya yang diharamkan semuanya pasti buruk, apalagi yang menjadi halangan menghindari yang haram dan hanya mengambil yang halal saja?</p>
<p>Tinggal kita laksanakan saja perintah Allah untuk memakan yang halal dan baik dan tidak mengikuti jejak dan ajakan syeitan yang mengajak kepada keburukan dan kesengsaraan. Allah berfirman:</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلالاً طَيِّباً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. </em><em>Al Baqarah</em><em>:168)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Karena hal ini merupakan wujud syukur kita kepada Allah yang telah memberikan rizki-Nya yang luas dan banyak. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p><strong> </strong><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ<br />
</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS. </em><em>Al Baqarah</em><em>:172)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Apabila kita bersyukur, Allah akan menambah anugerah-Nya. Jangan sekali-kali kita ingkar terhadap nikmat Allah dan melampaui batas, sebab jika kita ingkar terhadap nikmat Allah maka kebinasaan ada di hadapan kita.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p><strong>كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (QS. </em><em>Thaaha</em><em>:81)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Pentingnya makan yang halal dan bahaya makan yang haram</strong></p>
<p>Permasalahan halal dan haram sangat penting sekali bagi seorang muslim, dan ini ditunjukkan langsung dengan pengaitan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> antara makanan yang baik dengan amal shalih dan ibadah. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya: ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’” </em>(Qs. al-Mu’minun: 51).</p>
<p>Dan Ia berfirman,  (yang artinya)<em>“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” </em>(Qs. al-Baqarah: 172). <em>Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: ‘Ya Rabb, Ya Rabb,’ sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!”<a name="_ftnref1" href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/#_ftn1">1</a></em></p>
<p>Dalam hadits di atas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjelaskan bahwa makanan yang dimakan seseorang mempengaruhi diterima dan tidaknya amal shalih seseorang. Hal ini tentunya cukup membuat kita memberikan perhatiaan yang serius dan berhati-hati dalam permasalahan ini.</p>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah </em>berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa amal tidak diterima dan tidak suci kecuali dengan memakan makanan yang halal. Sedangkan memakan makanan yang haram dapat merusak amal perbuatan dan membuatnya tidak diterima”<a name="_ftnref2" href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/#_ftn2">2</a>.</p>
<p>Hal ini sangat berbahaya sekali, perhatikan lagi sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang lain:</p>
<h4><strong>أَيَّمَا عَبْدٍ  نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ</strong></h4>
<p><strong>“</strong><em>Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan)  haram maka Neraka lebih pantas baginya.”<a name="_ftnref3" href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/#_ftn3">3</a></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Mudah-mudahan hal ini membuat kita lebih berhati-hati. <em>Wallahu Al Muwaffiq</em>.</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.com</a></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/#_ftnref1">1</a> Dikeluarkan oleh Muslim dalam <em>az-Zakaah </em>no.1015, at-Tirmidzi dalam <em>Tafsirul Qur’an </em>no.2989,Ahmad dalam <em>Baaqi Musnad al-Muktsriin </em>no.1838, ad-Darimi dalam <em>ar-Riqaaq </em>no. 2717.<br />
<a name="_ftn2" href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/#_ftnref2">2</a> <em>Jaami’ul’Uluum wal Hikam</em> 1/260.<br />
<a name="_ftn3" href="http://ustadzkholid.com/akhlaq/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim/#_ftnref3">3</a> Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam <em>at-Targhiibu wa at-Tarhiib </em>3/17, awalnya, “<em>Hai Sa’d perbaikilah makananmu niscaya do’amu diterima.” </em>al-Haitsami menyebutnya dalam <em>al-Mujama’ </em>10/294, ia berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan pada sanadnya terdapat perawi yang saya belum mengenal mereka, adapun tambahan ini, shahih dengan banyak <em>syahid</em>nya dari Jabir dan Ka’b bin ‘Ujrah serta Abu Bakar ash-Shiddiiq sebagaimana dalam <em>adh-Dha’ifah </em>3/293, dan dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dengan sepertinya dalam <em>al-Jumu’ah </em>no. 614 dari Ka’b bin ‘Ujrah pada sebahagian dari hadits panjang, lafazhnya, “<em>Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka yang lebih pantas baginya.” </em>Abu ‘Isa berkata, “Hadits ini <em>hasan Gharib</em>. Dan disahkan oleh al-Albani dalam <em>Shahih Sunan at-Tirmidzi </em>no. 501</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/481/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=481&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/11/07/dampak-buruk-makanan-haram-bagi-seorang-muslim-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Syahadatain, Rukun, Syarat, Konsekuensi Dan Yang Membatalkannya</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/makna-syahadatain-rukun-syarat-konsekuensi-dan-yang-membatalkannya/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/makna-syahadatain-rukun-syarat-konsekuensi-dan-yang-membatalkannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 03:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan
PERTAMA: MAKNA SYAHADATAIN
[A]. Makna Syahadat &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221;
Yaitu beri&#8217;tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, menta&#8217;ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=462&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh<br />
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan</p>
<p>PERTAMA: MAKNA SYAHADATAIN<br />
[A]. Makna Syahadat &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221;<br />
Yaitu beri&#8217;tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, menta&#8217;ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.</p>
<p>Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, &#8220;Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah&#8221;. Khabar &#8220;Laa &#8221; harus ditaqdirkan &#8220;bi haqqi&#8221; (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan &#8220;maujud &#8221; (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata. <span id="more-462"></span></p>
<p>Kalimat &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:</p>
<p>[1]. &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; artinya:<br />
&#8220;Tidak ada sesembahan kecuali Allah&#8221;, Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.</p>
<p>[2]. &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; artinya:<br />
&#8220;Tidak ada pencipta selain Allah&#8221; . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.</p>
<p>[3]. &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; artinya:<br />
&#8220;Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah&#8221;. Ini juga sebagian dari makna kalimat &#8221; &#8220;. Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup</p>
<p>Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.</p>
<p>[B]. Makna Syahadat &#8220;Anna Muhammadan Rasulullah&#8221;<br />
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta&#8217;ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah<br />
Allah kecuali dengan apa yang disyari&#8217;atkan.</p>
<p>KEDUA: RUKUN SYAHADATAIN<br />
[A]. Rukun &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221;<br />
Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun:<br />
An-Nafyu atau peniadaan: &#8220;Laa ilaha&#8221; membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.</p>
<p>Al-Itsbat (penetapan): &#8220;illallah&#8221; menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.</p>
<p>Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur&#8217;an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala</p>
<p>&#8220;Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat &#8230;&#8221; [Al-Baqarah: 256]</p>
<p>Firman Allah, &#8220;siapa yang ingkar kepada thaghut&#8221; itu adalah makna dari &#8220;Laa ilaha&#8221; rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, &#8220;dan beriman kepada Allah&#8221; adalah makna dari rukun kedua, &#8220;illallah&#8221;. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada Nabi Ibrahim alaihis salam :</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku &#8230;&#8221;. [Az-Zukhruf: 26-27]</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala , &#8220;Sesungguhnya aku berlepas diri&#8221; ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, &#8220;Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku&#8221;, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.</p>
<p>[B]. Rukun Syahadat &#8220;Muhammad Rasulullah&#8221;<br />
Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat &#8220;&#8216;abduhu wa rasuluh &#8221; hamba dan utusanNya). Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, &#8230;&#8217;.&#8221; [Al-Kahfi : 110]</p>
<p>Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memujinya:</p>
<p>&#8220;Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.&#8221; [Az-Zumar: 36]</p>
<p>&#8220;Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur&#8217;an) &#8230;&#8221;[Al-Kahfi: 1]</p>
<p>&#8220;Artinya : Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram &#8230;&#8221; [Al-Isra': 1]</p>
<p>Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan).</p>
<p>Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah.</p>
<p>Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena&#8217;wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.</p>
<p>KETIGA: SYARAT-SYARAT SYAHADATAIN<br />
[A]. Syarat-syarat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221;<br />
Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah:</p>
<p>1. &#8216;Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan).<br />
2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).<br />
3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).<br />
4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).<br />
5. Ikhlash, yang menafikan syirik.<br />
6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).<br />
7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha&#8217; (kebencian).</p>
<p>Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Syarat Pertama: &#8216;Ilmu (Mengetahui).<br />
Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya :&#8230; Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). [Az-Zukhruf : 86]</p>
<p>Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.</p>
<p>Syarat Kedua: Yaqin (yakin).<br />
Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan sya-hadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu &#8230;&#8221; [Al-Hujurat : 15]</p>
<p>Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.&#8221; [HR. Al-Bukhari]</p>
<p>Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga.</p>
<p>Syarat Ketiga: Qabul (menerima).<br />
Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyem-bah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya.</p>
<p>Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta&#8217;ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: &#8216;Laa ilaaha illallah&#8217; (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: &#8220;Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?&#8221; [Ash-Shafat: 35-36]</p>
<p>Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum me-nerima makna laa ilaaha illallah.</p>
<p>Syarat Keempat: Inqiyaad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Syahadat).<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.&#8221; [Luqman : 22</p>
<p>Al-'Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah).</p>
<p>Syarat Kelima: Shidq (jujur).<br />
Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkan-nya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:</p>
<p>"Artinya : Di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian', padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." [Al-Baqarah: 8-10]</p>
<p>Syarat Keenam: Ikhlas.<br />
Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya&#8217; atau sum&#8217;ah. Dalam hadits &#8216;Itban, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah.&#8221; [HR. Al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Syarat Ketujuh: Mahabbah (Kecintaan).<br />
Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai<br />
orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.&#8221; [Al-Baqarah: 165]</p>
<p>Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah.</p>
<p>[B]. Syarat Syahadat &#8220;Anna Muhammadan Rasulullah&#8221;<br />
1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.<br />
2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.<br />
3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.<br />
4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gha-ib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.<br />
5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia.<br />
6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=462&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/makna-syahadatain-rukun-syarat-konsekuensi-dan-yang-membatalkannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid Rububiyah Mengharuskan Adanya Tauhid Uluhiyah</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/tauhid-rububiyah-mengharuskan-adanya-tauhid-uluhiyah/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/tauhid-rububiyah-mengharuskan-adanya-tauhid-uluhiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 03:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan
Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala . Dan itulah tauhid uluhiyah.
Tauhid uluhiyah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=460&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh<br />
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan</p>
<p>Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala . Dan itulah tauhid uluhiyah.</p>
<p>Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma&#8217;bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do&#8217;a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata.<span id="more-460"></span></p>
<p>Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.&#8221; [Al-Baqarah : 21-22]</p>
<p>Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyem-bahNya dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang lainNya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya.</p>
<p>Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepadaNya, cara-cara yang bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah ber-hujjah atas orang-orang musyrik dengan cara ini. Dia juga memerintahkan RasulNya untuk ber-hujjah atas mereka seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah: &#8216;Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?&#8217; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;Maka apakah kamu tidak ingat?&#8221; Katakanlah: &#8220;Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?&#8221; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;Maka apakah kamu tidak bertakwa?&#8221; Katakanlah: &#8220;Siapakah yang di tanganNya berada keku-asaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengeta-hui?&#8221; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?&#8221; [Al-Mu'minun : 84-89]</p>
<p>&#8220;Artinya : (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; &#8230;&#8221; [Al-An'am : 102]</p>
<p>Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hakNya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari pencipta-an manusia. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.&#8221; [Adz-Dzariyat : 56]</p>
<p>Arti &#8221; Ya&#8217;buduun &#8221; adalah mentauhidkanKu dalam ibadah. Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: &#8216;Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: &#8216;Allah&#8217;, &#8230;&#8221; [Az-Zukhruf : 87]</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: &#8216;Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?&#8217;, niscaya mereka akan menjawab: &#8216;Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Ma-ha Mengetahui&#8217;.&#8221; [Az-Zukhruf : 9]</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah, &#8216;Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?&#8217; Maka mereka akan menjawab: &#8220;Allah&#8221;. [Yunus : 31]</p>
<p>Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur&#8217;an. Maka barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut.</p>
<p>Di antara kekhususan ilahiyah adalah kesempurnaanNya yang mutlak dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepadaNya; pengagungan, penghormatan, rasa takut, do&#8217;a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara&#8217; dan fitrah agar ditujukan khusus kepada Allah semata. Juga secara akal, syara&#8217; dan fitrah, tidak mungkin hal itu boleh ditujukan kepada selainNya.</p>
<p>[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerjemah Agus Hasan Bashori Lc, Penerbit Darul Haq</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=460&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/tauhid-rububiyah-mengharuskan-adanya-tauhid-uluhiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid Rububiyah Dan Pengakuan Orang-Orang Musyrik Terhadapnya</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/tauhid-rububiyah-dan-pengakuan-orang-orang-musyrik-terhadapnya/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/tauhid-rububiyah-dan-pengakuan-orang-orang-musyrik-terhadapnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 03:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan
Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam Rububiyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya Nama-nama dan Sifat-sifatNya. Dengan demikian, tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyah , Tauhid Uluhiyah serta Tauhid Asma&#8217; wa Sifat. Setiap macam dari ketiga macam tauhid itu memiliki makna yang harus dijelaskan agar menjadi terang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=458&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh<br />
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan</p>
<p>Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam Rububiyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya Nama-nama dan Sifat-sifatNya. Dengan demikian, tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyah , Tauhid Uluhiyah serta Tauhid Asma&#8217; wa Sifat. Setiap macam dari ketiga macam tauhid itu memiliki makna yang harus dijelaskan agar menjadi terang perbedaan antara ketiganya.<span id="more-458"></span></p>
<p>Makna Tauhid Rububiyah<br />
Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Allah menciptakan segala sesuatu &#8230;&#8221; [Az-Zumar: 62]</p>
<p>Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, &#8230;&#8221; [Hud : 6]</p>
<p>Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah: &#8220;Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).&#8221; [Ali Imran: 26-27]</p>
<p>Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah &#8230;&#8221; [Luqman: 11]</p>
<p>&#8220;Artinya : Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya?&#8221; [Al-Mulk: 21]</p>
<p>Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam rububiyah-Nya atas segala alam semesta. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Artinya : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.&#8221; [Al-Fatihah: 2]</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas &#8216;Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.&#8221; [Al-A'raf: 54]</p>
<p>Allah menciptakan semua makhlukNya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menye-kutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah: &#8220;Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?&#8221; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;Maka apakah kamu tidak bertakwa?&#8221; Katakanlah: &#8220;Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?&#8221; Mereka akan menjawab: &#8220;Kepunyaan Allah.&#8221; Katakanlah: &#8220;(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?&#8221; [Al-Mu'minun: 86-89]</p>
<p>Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah:</p>
<p>&#8220;Artinya :  Berkata rasul-rasul mereka: &#8220;Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?&#8221; [Ibrahim: 10]</p>
<p>Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir&#8217;aun. Namun demikian di hatinya masih tetap meyakiniNya. Sebagaimana perkataan Musa alaihis salam kepadanya:</p>
<p>&#8220;Artinya : Musa menjawab: &#8220;Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa&#8221;. [Al-Isra': 102]</p>
<p>Ia juga menceritakan tentang Fir&#8217;aun dan kaumnya:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya.&#8221; [An-Naml: 14]</p>
<p>Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti komunis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena ke-sombongannya. Akan tetapi pada hakikatnya, secara diam-diam batin mereka meyakini bahwa tidak ada satu makhluk pun yang ada tanpa Pencipta, dan tidak ada satu benda pun kecuali ada yang membuatnya, dan tidak ada pengaruh apa pun kecuali pasti ada yang mempenga-ruhinya. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).&#8221; [Ath-Thur: 35-36]</p>
<p>Perhatikanlah alam semesta ini, baik yang di atas maupun yang di bawah dengan segala bagian-bagiannya, anda pasti mendapati semua itu menunjukkan kepada Pembuat, Pencipta dan Pemiliknya. Maka mengingkari dalam akal dan hati terhadap pencipta semua itu, sama halnya mengingkari ilmu itu sendiri dan mencampakkannya, keduanya tidak berbeda.</p>
<p>Adapun pengingkaran adanya Tuhan oleh orang-orang komunis saat ini hanyalah karena kesombongan dan penolakan terhadap hasil renungan dan pemikiran akal sehat. Siapa yang seperti ini sifatnya maka dia telah membuang akalnya dan mengajak orang lain untuk menertawakan dirinya.</p>
<p>[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerjemah Agus Hasan Bashori Lc, Penerbit Darul Haq]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/458/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=458&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/tauhid-rububiyah-dan-pengakuan-orang-orang-musyrik-terhadapnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Tauhid Uluhiyah Dan Tauhid Adalah Inti Dakwah Para Rasul</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/makna-tauhid-uluhiyah-dan-tauhid-adalah-inti-dakwah-para-rasul-2/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/makna-tauhid-uluhiyah-dan-tauhid-adalah-inti-dakwah-para-rasul-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 03:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan
Uluhiyah adalah Ibadah.
Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari&#8217;atkan seperti do&#8217;a, nadzar, kurban, raja&#8217; (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=455&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh<br />
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan</p>
<p>Uluhiyah adalah Ibadah.<br />
Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari&#8217;atkan seperti do&#8217;a, nadzar, kurban, raja&#8217; (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir. <span id="more-455"></span></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8216;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu&#8217;.&#8221; [An-Nahl : 36]</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, &#8216;Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku&#8217;.&#8221; [Al-Anbiya' : 25]</p>
<p>Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu&#8217;aib, dan lain-lain:</p>
<p>&#8220;Artinya : Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya.&#8221; [Al-A'raf: 59, 65, 73, 85].</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, &#8216;Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya&#8217;.&#8221; [Al-Ankabut : 16]</p>
<p>Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah, &#8216;Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama&#8217;.&#8221; [Az-Zumar : 11]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sendiri bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.&#8221; [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Kewajiban awal bagi setiap mukallaf adalah bersaksi laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), serta mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu&#8230;&#8221;. [Muhammad : 19]</p>
<p>Dan kewajiban pertama bagi orang yang ingin masuk Islam adalah mengikrarkan dua kalimah syahadat.</p>
<p>Jadi jelaslah bahwa tauhid uluhiyah adalah maksud dari dakwah para rasul. Disebut demikian, karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh namaNya, &#8220;Allah&#8221;, yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah).</p>
<p>Juga disebut &#8220;tauhid ibadah&#8221;, karena ubudiyah adalah sifat &#8216;abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepadanya.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, &#8220;Ketahuilah, kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikias-kan, tetapi dari sebagian segi mirip dengan kebutuhan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya ini terdapat perbedaan mendasar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya, ia tidak bisa baik kecuali dengan Allah yang tiada Tuhan selainNya. Ia tidak bisa tenang di dunia kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berpindah-pindah dari satu macam ke macam yang lain, dari satu orang kepada orang lain. Adapun Tuhannya maka Dia dibutuhkan setiap saat dan setiap waktu, di mana pun ia berada maka Dia selalu bersamanya.&#8221;</p>
<p>Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa mereali-sasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka bercokollah lawannya, yaitu syirik. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. [An-Nisa': 48, 116]</p>
<p>&#8220;Artinya : &#8230;Seandainya mereka mempersekutukan Alah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.&#8221; [Al-An'am : 88]</p>
<p>&#8220;Artinya : Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.&#8221; [Az-Zumar : 65]</p>
<p>Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak &#8230;&#8221;. [An-Nisa': 36]</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan kamu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya &#8230;&#8221; [Al-Isra': 23].</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah, &#8216;Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu dari Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan kamu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak …&#8217;.&#8221; [Al-An'am : 151]</p>
<p>[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerjemah Agus Hasan Bashori Lc, Penerbit Darul Haq]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/455/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=455&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/27/makna-tauhid-uluhiyah-dan-tauhid-adalah-inti-dakwah-para-rasul-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kekeliruan yang Muncul dalam Fatwa Kontemporer</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/20/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/20/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 07:16:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala menutup dakwah para Rasul dengan dakwah Rasulullâh Shallallahu’alaihi Wasallam dan Allah Ta’ala memenangkan risalah beliau hingga hari kiamat nanti. Allah Ta’ala ciptakan generasi Sahabat dan Tabi’in yang bertugas menegakkan hujjah kepada manusia. Juga memerintahkan mereka untuk menjaga syariat Islam dan ber-tafaqquh fiddîn (belajar ilmu agama). Allah Ta’ala berfirman:
كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=444&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Allah <em>Ta’ala</em> menutup dakwah para Rasul dengan dakwah Rasulullâh <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan Allah <em>Ta’ala</em> memenangkan risalah beliau hingga hari kiamat nanti. Allah <em>Ta’ala</em> ciptakan generasi Sahabat dan <em>Tabi’in</em> yang bertugas menegakkan hujjah kepada manusia. Juga memerintahkan mereka untuk menjaga syariat Islam dan ber-<em>tafaqquh fiddîn</em> (belajar ilmu agama). Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:24px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitâb dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya</em><em>”</em> (QS. Ali Imrân:79)<span id="more-444"></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman:</p>
<p style="font-size:24px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Tidak sepatutnya bagi Mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya</em>” (QS. At-Taubah:122)</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini Allah <em>Ta’ala</em> membagi mereka menjadi dua kelompok. Salah satunya diperintahkan untuk berjihad di jalan-Nya dan yang lainnya diperintahkan menuntut ilmu agama, agar kaum Muslimin dapat merujuk dan bertanya kepada mereka tentang berbagai permasalahan dien; Termasuk dalam permasalahan kontemporer (<em>nawâzil</em>) yang terjadi di kalangan kaum Muslimin.<span id="more-1309"> </span> Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="font-size:24px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui</em><em>”</em> (QS. An-Nahl: 43)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Syarat Berfatwa Dalam N<em>awâzil</em></strong></p>
<p>Tidak dipungkiri lagi <em>ijtihâd</em> para Ulama dalam memberikan fatwa pada masalah kontemporer (<em>Nawâzil</em>) sangat dibutuhkan umat ini. Apalagi permasalahan kontemporer (<em>Nawâzil</em>) sangat banyak dan terus bermunculan. Namun tentunya, yang bisa berbicara untuk memutuskan permasalahan ini hanyalah para ulama yang memenuhi syarat, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Seorang <em>mujtahid </em>(orang berilmu yang mampu menelaah hukum agama<em>)</em>, walaupun bukan      <em>mujtahid</em> mutlak dan hanya bisa ber-<em>ijtihad</em> dalam      sebagian bidang ilmu.</li>
<li>Harus      memiliki gambaran jelas dan pemahaman yang benar terhadap permasalahan yang      akan dijadikan sebagai obyek <em>ijtihad</em>nya.</li>
<li>Dalam      menetapkan hukum, dia bersandar pada dalil syar’i yang <em>mu’tabar</em> (yang dibenarkan).</li>
</ol>
<p><strong>Beberapa Kekeliruan Yang Sering Ditemui Dalam <em>Fatwa</em> Kontemporer</strong></p>
<p>Para Ulama yang berfatwa dalam masalah <em>Nawâzil</em> terkadang keliru walaupun secara kuantitas tiga syarat di atas sudah terpenuhi. Kekeliruan tersebut bertingkat-tingkat, tidak sama, ada yang jelas dan ada yang samar. Berikut ini beberapa kekeliruan yang samar dalam fatwa <em>nawâzil</em>:</p>
<p><strong>1. Penguraian permasalahan ke dalam elemen-elemen pembentuknya</strong> dengan memberikan hukum khusus satu persatu tanpa melihat hasil yang ada apabila digabung dan disusun.</p>
<p>Sebagai contoh adalah jual beli <em>murâbahah. </em>Yaitu jual beli yang tersusun dari tiga akad yaitu akad <em>wakâlah </em>(perwakilan), akad <em>Muwâ’adah</em> <em>bisy-Syirâ’</em> (janji membeli) dan akad jual beli kredit. Ketiga akad ini sah dan dibenarkan. Berdasarkan hal ini maka jual beli <em>murâbahah</em> adalah akad yang <em>shahîh</em>. Inilah yang disampaikan orang yang mensahkan jual beli ini, tanpa menengok kepada pengertian baru yang muncul ketika ketiga akad itu disatukan.</p>
<p>Sedangkan Ulama yang melarangnya, berpendapat bahwa walaupun jual beli <em>murâbahah</em> ini terbentuk dari tiga akad tersebut, namun keadaan dan faktor pendorong pengadaan dan penyebarannya menunjukkan akad ini salah satu diantara upaya merekayasa riba. Karena penjual -yaitu bank pembiaya- ingin meminjamkan uang kepada pembeli dengan mendapatkan profit (bunga), demikian juga pembeli, dia ingin meminjam uang dari bank dengan memberi bunga. Barang yang ada hanya dijadikan rekayasa hingga berubah bentuk menjadi pinjaman dengan bunga  yang kemudian dinamakan jual beli <em>murâbahah</em>.</p>
<p>Contoh lainnya adalah fatwa sebagian Ulama tentang <em>al-Ijârah al-Muntahiyah bit-tamlîk</em> (<em>finance leasing</em>). Ada yang menyatakannya sebagai adalah akad yang sah, karena tersusun dari <em>ijârah</em> (sewa menyewa), jual beli (<em>Bai’</em>) atau pemberian (<em>Hibah</em>). <em>Ijârah</em> jelas disepakati kebolehannya. Kemudian apabila masa <em>ijârah</em> (sewa menyewa) telah selesai, maka pemilik barang memiliki kebebasan penuh untuk menjual barangnya atau menghibahkannya kepada siapa yang ia sukai atau tetap menahan barang itu sebagai miliknya. Tidak ada yang mampu mencegah pemilik  barang dari kebebasannya mengelola barang miliknya, mau dijual atau dihibahkan.</p>
<p>Bukan maksud di sini memaparkan pendapat yang membolehkan atau yang melarang dalam masalah ini atau lainnya. Tetapi hanya mengingatkan tentang pentingnya mengkompromikan antara tinjauan secara menyeluruh (<em>an-Nazhar al-Kulli al-Ijmâli</em>) dengan tinjauan secara rinci (<em>an-nazhar al-Juz’i at-tafshîli</em>) ketika hendak menetapkan satu hukum pada sebuah <em>nawazil</em>. Juga hendak menjelaskan bahwa membatasi hanya dengan salah satu sisi tinjauan saja dapat menjerumuskan pada kesalahan.</p>
<p>Sudah menjadi kewajiban seorang ulama ahli fikih untuk melihat dengan teliti permasalahan dan akad transaksi kontemporer dan memahami hakekatnya serta meninjau akibat yang ditimbulkannya. <strong> </strong></p>
<p><strong>2. Berkelit dari realita</strong>. Banyak orang yang berfatwa apabila ditanya tentang masalah kontemporer, dia menjawab dengan menerangkan hukum masalah tersebut dari sisi hukum asal, kemudian menyampaikan syarat-syarat hukumnya. Padahal pada kenyataannya syarat tersebut sangat sulit dilaksanakan.</p>
<p>Contoh: sebagian orang yang berfatwa ketika ditanya tentang hukum finance leasing (<em>al-Ijâr al-Muntahiyah bit-Tamlîk</em>) menjawab bahwa itu boleh. Tetapi penanya melanjutkan lagi bahwa mereka mengharuskan asuransi. Maka sang <em>mufti </em>menjawab : “Jangan kamu setuju dengan asuransinya; ambil saja mobilnya tanpa asuransi dan asuransinya tidak mengikat”.</p>
<p><em>Mufti</em> ini seharusnya memperjelas gambaran yang ada dalam praktek. Semua finance leasing (<em>ijârah al-muntahiyah bit-Tamlîk</em>) dalam praktek ternyata berisi asuransi.</p>
<p>Semestinya ia menjelaskan, <em>finance leasing</em> dengan syarat mengikuti asuransi itu boleh atau tidak? Kemudian setelah itu dia bisa memberikan penjelasan tambahan bahwa <em>finance leasing</em> itu boleh dilakukan bila sudah memenuhi beberapa syarat. Dilanjutkan dengan penjabaran syarat-syarat tersebut. Bila syarat-syarat tersebut dilanggar, maka hukumnya begini dan begitu.</p>
<p>Contoh lain, seorang ditanya tentang hukum berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola, lalu dia menjawab bahwa pada asalnya hal itu diperbolehkan, kecuali bila terdapat hal-hal yang larangan <em>syari’at’</em>.</p>
<p>Perhatikanlah jawaban ini, tidak sesuai<em> </em>dengan pertanyaannya. Pertanyaan penanya tersebut tidak lepas dari realita yang terlihat di lapangan. Kompetisi ini tidak lepas dari berbagai pelanggaran <em>syari’at</em> seperti membuang-buang waktu, membuka aurat, kerusakan akhlak, menghabiskan umur dan membuang-buang harta. Hal-hal ini jelas bertentangan dengan <em>maqâshid syari’at</em> (tujuan syariat) dari banyak sisi.</p>
<p>Kemudian juga, si penanya tidak menanyakan hukum asal. Seandainya si penanya menanyakan hukum asal, maka si mufti seharusnya mengingatkan si penanya tentang realita yang terjadi di lapangan setelah menjelaskan hukum asalnya.</p>
<p>Kesimpulannya seorang <em>mufti</em> sebaiknya tidak menjawab dengan cara di atas dan berusaha untuk memperhatikan dua perkara:</p>
<ol>
<li>Menjelaskan bentuk realitanya dan tidak lupa menjelaskan hukumnya; karena tidak menjelaskan kenyataan atau berkelit darinya adalah kekeliruan yang berbahaya.</li>
<li>Menyampaikan hukum asal dengan penjelasan ketentuan dan syarat-syarat yang mencakup kemungkinan bentuk-bentuk lain dari yang telah ada dan yang akan ada.</li>
</ol>
<p>Fatwa yang memenuhi dua hal ini akan menjadi lebih jelas dan baku.</p>
<p><strong>3. Permasalahan istilah dan bahasa yang umum</strong></p>
<p>Merupakan<strong> </strong>satu keniscayaan ketika hendak menetapkan hukum terhadap satu masalah kontemporer untuk melihat hakekat permasalahannya, tidak silau dengan nama-nama atau pun istilahnya. Karena hukum <em>syara’</em> hanya berhubungan dengan hakekat dan pengertian, bukan dengan lafadz dan susunan kata.</p>
<p>Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bermain dengan istilah-istilah agama menjadi fenomena pada banyak transaksi-transaksi yang tidak benar dewasa ini. Buktinya, bila menilik seluruh transaksi yang muncul dari bank-bank syari’at atau konvensional, tidak ada pelayanan yang<em> </em>menggunakan nama riba secara terang-terangan. Namun, apakah ini menunjukkan bahwa seluruh transaksi<em> </em>tersebut bebas dari <em>riba </em>?</p>
<p>Perhatikanlah pula pengorbanan dan keberanian yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin Palestina yang lemah saat berhadapan dengan orang-orang yahudi, musuh kaum Muslimin. Sebagian mereka menamakannya <em>‘amaliyah istisyhadiyyah</em> (usaha untuk mendapatkan mati syahid), sementara sebagian yang menamainya dengan <em>‘amaliyah intihariyyah</em> (perbuatan bunuh diri). Padahal setiap penamaan memiliki makna tersendiri. Yang menjadi problem dalam pemberian nama yaitu ketika tidak peduli dengan makna dan kandungan nama itu. Tidak logis, kalau kita menghukumi perbuatan diatas dengan hukum haram sementara pada saat yang sama kita menamainya dengan <em>‘amaliyah istisyhadiyyah</em>. Sebaliknya, bagaimana bisa perbuatan itu dihukumi sesuai dengan syari’at, sementara dia digelari <em>‘amaliyah intihariyyah</em>.</p>
<p>Kaedah baku dan standar dalam hal ini adalah sedapat mungkin menggunakan nama-nama <em>syar’i</em> dalam penamaan seluruh perkara. Namun bila ada permasalahan yang baru dan tidak ada nama yang <em>syar’i</em> untuknya, maka wajib menamainya dengan nama yang dikenal secara bahasa, yang pas dan yang menunjukkan hakekat permasalahan tersebut.</p>
<p><strong>4. Tidak cermat dalam melihat perkembangan dan perubahan <em>nawâzil</em></strong>.</p>
<p>Ini termasuk kesalahan karena hakekat <em>nawâzil</em> terkadang mengalami sedikit perubahan dan pergeseran. Perubahan ini terkadang  merubah hakekat <em>nawâzil</em> secara keseluruhan dari hakekat sebelumnya. Meski terjadi perubahan, namun istilah <em>nawâzil</em> tetap melekat pada keduanya, baik seblum ataupun setelah terjadi perubahan.</p>
<p>Memberikan fatwa hanya berdasarkan gambaran pertama dari suatu permasalahan pada suatu kejadian akan melahirkan <em>tashawwur</em> (gambaran) yang keliru dan kesalahan dalam memahaminya (<em>miss understanding</em>).</p>
<p>Kalau demikian, orang yang ingin memahami kejadian tersebut secara sempurna, sudah seharusnya terus meng-<em>update</em> informasi tentangnya. Khususnya pada zaman ini, dimana perubahan itu begitu cepat terjadi.</p>
<p>Sudah dimaklumi bahwa sebuah fatwa bisa berubah seiring dengan perubahan waktu, tempat dan keadaan serta adat yang berlaku. Dari sini sudah seharusnya seorang yang berfatwa<em> </em>memperhatikan waktu, tempat, kondisi dan keadaan yang berhubungan dengannya, serta adat yang berlaku dalam hukumnya terhadap satu permasalahan kontemporer.</p>
<p>Untuk itu, kewajiban yang berfatwa dalam urusan kontemporer ini adalah menjelaskan bentuk masalahnya dan hukumnya serta memberikan batasan hukum terhadap masalahnya secara khusus, serta memperhatikan sumber hukumnya. Akan lebih baik lagi bila diberikan tanggal keluarnya fatwa tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh dalam hal ini adalah sikap Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di <em>Rahimahullah</em> dalam salah satu fatwanya. Beliau <em>Rahimahullah</em> menyampaikan, sebagian Ulama terdahulu telah berfatwa bahwa seorang wanita apabila meninggal dunia dalam keadaan mengandung bayi yang masih hidup, maka dilarang membedah perutnya untuk mengeluarkan bayinya. Karena ini termasuk <em>al-mutslah</em> (merusak jenazah/mayat). Kemudian beliau <em>Rahimahullah</em> memberikan komentar : “Namun pada masa-masa terakhir ini, ilmu bedah telah berkembang pesat dan akhirnya membedah perut atau sebagian anggota badan tidak lagi dianggap <em>al-mutslah</em>. Mereka bisa melakukannya terhadap orang yang masih hidup dengan keridhaan dan keinginan terhadap beraneka ragam sistem pengobatan. Sehingga saya cenderung seandainya para ahli fikih terdahulu menyaksikan keadaan ini tentu mereka akan memperbolehkan membedah perut orang hamil, dengan sebab keberadaan bayinya yang masih hidup dan demi mengeluarkannya. Khususnya bila masa hamil sudah usai  dan diketahui atau besar kemungkinan bayinya akan bisa diselamatkan.”</p>
<p>Setelah menyampaikan kecenderungan beliau <em>Rahimahullah</em> , Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di <em>Rahimahullah</em> mengatakan : “<em>A</em><em>l-mutslah</em> yang mereka jadikan sebagai alasan untuk melarang tindakan ini menunjukkan asumsi ini.” <a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>5. Cenderung mempermudah dan meringankan fatwa, </strong>tanpa memperhatikan <em>maqâshid syari’at</em>.</p>
<p>Anggapan mereka bahwa inilah yang paling sesuai dengan keadaan manusia di zaman ini. Karena kebanyakan manusia saat ini tidak lagi berpegang teguh dengan hukum-hukum agama dan sibuk dengan gemerlap kehidupan. Untuk itu, harus dilakukan upaya pendekatan agama kepada mereka yang berjiwa lemah dan yang lainnya, supaya mereka bisa menerima dan mencari hukum-hukum <em>syara’</em>. Ini upaya yang wajib dilakukan. namun pendapat yang memberikan kemudahan tersebut harus memiliki dasar kuat yang menopangnya berupa <em>nash</em> atau <em>qiyas</em> atau pendapat imam ahli fikih yang diikuti.</p>
<p>Di antara contohnya adalah fatwa sebagian Ulama yang membolehkan seorang wanita bepergian haji dengan teman-teman yang dipercaya tanpa <em>mahram</em>.<a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>6. Kecenderungan untuk memperberat dan melarang</strong> <strong>tanpa memperhatikan <em>maqâshid syari’at</em></strong>.</p>
<p>Dengan<strong> </strong>asumsi ini lebih hati-hati dan cocok dengan keadaan sebagian kaum Muslimin yang sering meremehkan dan tidak mau melaksanakan tugas-tugas syari’at. Terkadang sikap meremehkan ini pada akhirnya bisa menyeret seseorang meninggalkan aturan-aturan agama sama sekali.</p>
<p>Di antara contohnya adalah fatwa sebagian Ulama yang menyatakan tidak boleh melempar <em>jumrah</em> di malam hari, juga fatwa yang menyatakan bahwa bayi tabung hukum haram secara mutlak.</p>
<p><strong>7. Berhujjah dengan fatwa sekelompok Ulama</strong> (<em>al-Iftâ` al-Jamâ`i</em>) dan merasa cukup denganya serta menjadikannya sebagai dalil tanpa merasa butuh dengan yang lain.</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>al-Iftâ` al-Jamâ`i</em> adalah semua fatwa dan ketetapan ataupun penjelasan dikeluarkan oleh sebagian al-<em>Majâmi’</em> (konferensi) dan <em>lajnah</em> ilmiyah. Terkait dengan hal ini, ada beberapa point penting yang perlu diperhatikan :</p>
<p><strong>a. Tidak disangsikan lagi bahwa fatwa yang bersumber dari banyak Ulama lebih pantas untuk diterima dibandingkan fatwa perorangan.</strong></p>
<p>Perlu dibedakan antara fatwa yang dikeluarkan sebuah <em>lajnah fatwa</em> yang terdiri dari sejumlah mufti dengan ijma’ kesepakatan para ulama. Perlu diketahui juga bahwa ifta’ jama’i tidak bisa mencapai derajat ijma’, baik dari sisi kekuatan hujjahnya ataupun segi kesepakatannya. Sebab fatwa dari konferensi dan badan ilmiyah dunia tersebut adalah hasil pemikiran fikih yang dirangkai disusun dari berbagai penelitian, karya tulis dan sensus lapangan. Jelas ketetapan konferensi dengan tinjauan ini lebih baku dan teliti secara fikih daripada fatwa sekelompok Ulama. Fatwa sekelompok Ulama jelas – karena banyaknya mereka – memberikan perasaan lebih tenang dan tentram dibanding fatwa perorangan. Inilah tiga tingkatan fatwa kontemporer, yang tertinggi adalah ketetapan konferensi, kemudian fatwa sekelompok Ulama, kemudian fatwa perorangan.</p>
<p><strong>b. Harus membedakan antara fatwa yang disampaikan mayoritas Ulama dengan adanya Ulama yang menyelisihinya dengan masalah <em>Ijmâ’</em>.</strong> Juga mengetahui bahwa fatwa sekelompok Ulama tidak sampai pada martabat <em>ijmâ’</em> dalam peran sebagai <em>hujjah</em> dan kesepakatan.</p>
<p><strong>c. Kelemahan fatwa secara berjama`ah kadang terjadi karena tekanan pihak tertentu</strong> dan biasanya tidak memiliki sarana iklan penyampaian yang sesuai<span style="text-decoration:underline;">.</span></p>
<p><strong>d. Terkadang pendapat yang dikeluarkan konferensi (<em>al-Majma’</em>) adalah pendapat minoritas</strong>, walaupun dikeluarkan dengan kesepakatan mereka semuanya. Sebab tidak semua Ulama dunia bisa ikut serta dalam konferensi tersebut.</p>
<p><strong>e. Di antara ide yang sering dilontarkan yaitu membentuk perkumpulan para Ulama dunia yang independen</strong>, tidak berada di bawah satu kekuatan atau satu pemerintahan. Perkumpulan ini yang akan mempelajari dan meneliti masalah-masalah kontemporer yang terjadi di tengah umat dengan tanpa tekanan dari fihak manapun. <strong> </strong></p>
<p><strong>8. Berhujjah dengan fatwa perorangan</strong> dan mengamalkannya serta pasrah kepadanya. Yang dimaksud dengan fatwa perorangan (<em>al-Iftâ` al-Fardi</em>) adalah fatwa dan ketetapan yang keluar dari seorang Ulama.</p>
<p>Dalam hal ini ada beberapa point penting:</p>
<ol>
<li>Fatwa perorangan adalah penyempurna dan berasal dari fatwa kelompok (<em>al-Iftâ al-Jamâ’i</em>).</li>
<li>Kebenaran terkadang ada pada satu individu bukan pada mayoritas. Ini adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh <em>syara’</em> dan nyata.</li>
<li>Sebagian fatwa <em>mufti</em> tidak dianggap. Karena, terkenal suka meremehkan suatu permasalahan dan mengikuti hawa nafsu.</li>
<li>Pendapat seorang <em>mufti</em> atau lebih, kadang tersiarkan dan tersebar luas hingga orang menyangka ini adalah pendapat mayoritas, padahal sebenarnya tidak demikian.</li>
</ol>
<p>Demikian sebagian kekeliruan yang nampak dalam banyak fatwa kontemporer, semoga menjadi pencerahan bagi kita semua.</p>
<p>—</p>
<p>[Disarikan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. dari kitab <em>Fiqhun Nawazil Dirasatu Ta'shiliyyah Wa Tathbiqiyyah</em> (1/68-77), karya Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani <em>Hafizhahullah</em>]</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>
<hr size="1" /><a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/#_ftnref1">[1]</a> <em>Fatâwa as-Sa’diyah</em> hlm 189-190</p>
<p><a href="http://ustadzkholid.com/manhaj/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/#_ftnref2">[2]</a> Fatwa ini nampaknya memberikan kemudahan pada manusia, padahal sebenarnya malah sebaliknya, jika kita melihat kepadatan jamaah haji yang sangat beresiko menimbulkan berbagai bahaya bagi sebagian jamaah haji bahkan bisa menyebabkan kematian. Khususnya bagi mereka yang lemah seperti jompo, orang sakit dan wanita.</p>
<p>Dengan cara pandang ini, kalau ingin memberikan kemudahan bagi kaum wanita mestinya mereka dilarang berhaji tanpa ada <em>mahram</em> yang menjaga mereka.</p>
<p>Dengan kata lain, bukankah pelarangan wanita berhaji tanpa <em>mahram</em> akan mengakibatkan berkurangnya kepadatan dan memperkecil jumlah jamaah haji?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=444&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/20/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAJIAN ONLINE VIA Yahoo Mesengger Kota MEDAN Hadir Kembali&#8230;!!!</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/09/kajian-online-via-yahoo-mesengger-kota-medan-hadir-kembali/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/09/kajian-online-via-yahoo-mesengger-kota-medan-hadir-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 04:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=425</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Ihkwan dan Akhwat yang Allah muliakan…
Alhamdulillah, setelah sekian lama tertunda akhirnya Kami para ikhwan salafi FORSIL (Forum Studi Islam Ilmiyah) Universitas  Sumatera Utara ingin memberitahukan bahwa beberapa kajian salafi yang rutin diadakan di Kampus USU dan yang diadakan di kota Medan lainnya insya Allah telah dapat didengar secara online (live internet) dengan menggunakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=425&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ihkwan dan Akhwat yang Allah muliakan…</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, setelah sekian lama tertunda akhirnya Kami para ikhwan salafi FORSIL (Forum Studi Islam Ilmiyah) Universitas  Sumatera Utara ingin memberitahukan bahwa beberapa kajian salafi yang rutin diadakan di Kampus USU dan yang diadakan di kota Medan lainnya insya Allah telah dapat didengar secara online (live internet) dengan menggunakan fasilitas <strong>Yahoo Mesengger </strong>Voice Conference. Kami berusaha membuat fasilitas kajian online via YM ini dengan tujuan untuk menyebarluaskan dakwah Salafiyyah di seluruh wilayah Negara Indonesia ini. Karena keterbatas ilmu dan biaya Kami hanya bisa membuat layanan kajian online ini dari Via YM saja, tidak seperti radio-radio Sunnah yang telah mengudara di negeri kita ini. Tapi, hal tersebut tidaklah membuat semangat kami pudar. Dengan niat ihklas karena Allah Kami pun turut serta menyebarkan Dakwah Salafiyyah ini melalui dunia maya (internet) via YM.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">UNTUK TAHAP AWAL SAAT INI</span></strong><strong> </strong>Kajian Salafi yang bisa di dengan Via Yahoo Mesengger adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Senin, pukul 20.30-22.00 wib (ba’da Isya)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kajian ‘Ilmu Ushul Bid’ah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemateri : Ustadz Ali Nur, Lc <em>Hafidzahullah</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">2. Rabu, pukul 20.30-22.00 wib (ba’da Isya)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kajian Tafsir Al Qur’an</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemateri : Ustadz Nurdin Al Bukhori <em>Hafidzahullah</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">3. Sabtu, pukul 16.30-18.00 wib</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kajian Prinsip-Prinsip Dakwah Salafiyyah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemateri : Ustadz Ali Nur, Lc <em>Hafidzahullah</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">4. Minggu, pukul 09.30-11.30 wib *****</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kajian ‘Aqidah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pemateri : Ustadz Abu Ihsan Al Atsary</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara Untuk Mendengarkan Kajian Online Medan via YM :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Aktifkan Yahoo Mesengger antum/antenna (minimal YM versi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">2. Add kontak ID Kajian Rutin Online YM nya yakni :</p>
<p style="text-align:justify;">ID YM : syabaabussunnah</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">***** Khusus untuk Kajian hari minggu ID YM nya : taklim_live_medan</p>
<p style="text-align:justify;">3. Ketika ketika acara akan dimulai setiap account YM antum/antunna yang aktif akan langsung diinvite (diundang) oleh Kami</p>
<p style="text-align:justify;">4. Dilarang menggunakan ruang chat untuk chat hal-hal yang tidak bermanfaat ketika kajian berlangsung</p>
<p style="text-align:justify;">5. Ruang chat dapat digunakan untuk bertanya pada sesi pertanyaan berlangsung</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>PERHATIAN…!!!</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Fasililas Kajian Online Via YM ini Kami perbuat adalah untuk membantu seluruh ikhwan dan akhwat untuk menambah ilmu syar’I dimanapun berada </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Tidak dibenarkan bagi para ikhwan dan akhwat yang ada di Medan yang mempunyai kemudahan untuk menghadiri langsung majelis ta’lim di Medan untuk mengikuti kajian online Via YM ini kecuali mempunyai udzur yang syar’i.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Tetaplah bersemangat untuk terus menuntut ilmu syar’I dan terus semangat untuk terus menghadiri majelis ta’lim.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>PERLU DIKETAHUI…!!!</strong></p>
<p>Manusia hanya berenca, akan tetapi Allah lah yang menentukan takdir makhluknya. Kami sadar dalam pelaksanaan Kajian Online Via YM ini nantinya aka nada hambatan-hambatan atau faktor-faktor yang menyebabkan Kajian Online tidak bisa dilaksanakan. Maka dari itu Kami sebelumnya mohon maaf atas kekurangan ini. Adapun faktor-faktor yang selama ini Kami alami yakni :</p>
<p>1. Pemateri berhalangan hadir dan tidak adanya pematari pengganti</p>
<p>2. Hujan deras yang mengakibatkan ketidakhadiran pemateri dan murid</p>
<p>3. Operator Kajian Online berhalangan karena udzur syar’i</p>
<p>4. Sinyal Internet yang digunakan terganggu (lemah)</p>
<p><strong>SOLUSI…!!!</strong></p>
<p>Karena mungkin saja faktor-faktor diatas tidak memungkinkan dilaksanakannya Kajian Online, maka antum/antunna tidak perlu khawatir, antum/antunna bisa mendownload rekaman kajiannya di website Kami di :</p>
<p>www.syabaabussunnah.co.cc</p>
<p>www.pustaka-albinjy.co.cc</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>PERMOHONAN DANA…!!!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kami juga mengharapkan partisipasi ihkwah fillah untuk sudi kiranya memberikan <strong>bantuan dana (untuk biaya internet bulanan)</strong> agar program kerja “Kajian Online Live Via YM” yang kami rencaranakan ini terus dapat terlaksana dengan baik dan lancar.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi antum yang ingin memberikan bantuan dana dapat mengirimkan bantuan ke</p>
<p style="text-align:justify;">No. rekening : 01.086.024.71</p>
<p style="text-align:justify;">A.n. Rizki Khairil</p>
<p style="text-align:justify;">BNI Cab. USU Medan</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi antum yang telah mengirimkan bantuannya kami harapkan untuk  mengirimkan sms konfirmasi dengan menyebutkan Nama Lengkap, Alamat, dan Jumlah Dana yang disumbangkan ke nomor Hp : 085276737140 (Rizki Khairil)</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah infomasi ini Kami sampaikan dengan harapan agar kita semua dapat mengikutinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jazakumullahu khairan Katsiran</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh….</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/425/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=425&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/09/kajian-online-via-yahoo-mesengger-kota-medan-hadir-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penggalangan Dana Bantuan Korban Gempa di Padang</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/02/penggalangan-dana-bantuan-korban-gempa-di-padang/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/02/penggalangan-dana-bantuan-korban-gempa-di-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 03:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah..
Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullah Wabarakatuh&#8230;
Berawal dari keinginan kami membantu ikhwanna &#8220;Rinto (Mahasiwa FE USU)&#8221; dimana rumahnya orang tuanya hancur pada gempa 7.6 SR pada 30 September lalu di Padang, maka kami dari Forum Studi Islam Ilmiah (FORSIL) USU memutuskan untuk menggalangan dana bantuan untuk para korban gempa di Padang umumnya.
Anda dpt menyumbangkan bantuan anda melalui rekening di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=420&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_423" class="wp-caption alignleft" style="width: 446px"><img class="size-full wp-image-423" title="8724_1124925808688_1393411600_30301605_2700321_n" src="http://syabaabussunnah.files.wordpress.com/2009/10/8724_1124925808688_1393411600_30301605_2700321_n.jpg?w=436&#038;h=604" alt="Donasi bantuan gempa" width="436" height="604" /><p class="wp-caption-text">Donasi bantuan gempa</p></div>
<p>Bismillah..<br />
Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullah Wabarakatuh&#8230;<br />
Berawal dari keinginan kami membantu ikhwanna &#8220;Rinto (Mahasiwa FE USU)&#8221; dimana rumahnya orang tuanya hancur pada gempa 7.6 SR pada 30 September lalu di Padang, maka kami dari Forum Studi Islam Ilmiah (FORSIL) USU memutuskan untuk menggalangan dana bantuan untuk para korban gempa di Padang umumnya.</p>
<p>Anda dpt menyumbangkan bantuan anda melalui rekening di atasSmg bantuan anda dapat meringankan penderitaan saudara kita d. Bantuan insya Allah akan kami salurkan kpd saudara2 kita kaum muslimin yang tertimpa musibah gempa disana.<br />
Jazakumullah khairan Katsira<br />
Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (QS At Taubah: 51)</p>
<p>&#8220;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.&#8221; (Al Baqarah :286).</p>
<p>- by FORSIL USU-</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/420/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=420&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/10/02/penggalangan-dana-bantuan-korban-gempa-di-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syabaabussunnah.files.wordpress.com/2009/10/8724_1124925808688_1393411600_30301605_2700321_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">8724_1124925808688_1393411600_30301605_2700321_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Terakhir Syaikh Ibnu Baz</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/09/10/nasehat-terakhir-syaikh-ibnu-baz/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/09/10/nasehat-terakhir-syaikh-ibnu-baz/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 08:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Ketahuilah wahai sekalian kaum muslimin, sudah menjadi kewajiban setiap orang yang berilmu untuk mengingatkan hal ini dan menasehati orang serta mendakwahkannya sesuai kemampuannya. Hal ini dilakukan untuk menunaikan kewajiban penyampaian dan dakwah dan mengikuti para Rasul serta menjauhkan diri dari sikap menyembunyikan ilmu. Sikap yang telah diperingatkan Allah dalam Alqur’an sebagaimana firmanNya:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآأَنزَلْنَا [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=416&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketahuilah wahai sekalian kaum muslimin, sudah menjadi kewajiban setiap orang yang berilmu untuk mengingatkan hal ini dan menasehati orang serta mendakwahkannya sesuai kemampuannya. Hal ini dilakukan untuk menunaikan kewajiban penyampaian dan dakwah dan mengikuti para Rasul serta menjauhkan diri dari sikap menyembunyikan ilmu. Sikap yang telah diperingatkan Allah dalam Alqur’an sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآأَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَابَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلاَئِكَ يَلْعَنَهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati</em>” (QS. Al Baqarah: 159)</p>
<p>Juga telah ada hadits yang shahih dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang menyatakan:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</p>
<p><em>“</em><em>Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapat pahala seperti pahala pelakunya</em><em>”<span id="more-416"></span></em></p>
<p>Dan beliaupun bersabda:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا</p>
<p><em>“</em><em>Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk mak ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikpun pahala mereka. Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikruinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka</em><em>”</em></p>
<p>kedua hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>S</em><em>h</em><em>a</em><em>hih</em>-nya.</p>
<p>Jika hal diatas telah diketahui, maka saya wasiyatkan kepada kalian dan diri saya untuk bertaqwa kepada Allah dalam segala keadaan, baik tampak atau sembunyi, keadaan susah atau senang. Wasiat taqwa ini merupakan wasiat Allah dan Rasulnya, sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ</p>
<p><em>“</em><em>Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah</em><em>”</em><em> </em>(QS. An Nisa’: 131)<em> </em></p>
<p>dan beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> menyampaikannya dalam khutbah:</p>
<h2>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">أُوْصِيْكُمْ  بِتَقْوَى اللهِ وَالسَمْعِ وَ الّطَاعَةِ</p>
</h2>
<p><em>“</em><em>Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah dan bersikap taat dan patuh</em><em>”</em></p>
<p>Kata takwa merupakan kata yang mencakup seluruh kebaikan, sebab hakekatnya adalah menunaikan kewajiban Allah dan menjauhi larangannya dengan ikhlas, cinta dan mengharap pahala serta takut dari adzabNya. Allah telah memerintahkan hambaNya untuk bertakwa dan menjanjikan mereka yang bertakwa kemudahan , keselamatan dari bahaya, kemudahan rezeki, ampunan dosa dan memperoleh surga. Allah berfirman:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">يَآأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَىْءٌ عَظِيمٌ</p>
<p><em>“</em><em>Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat</em><em>”</em><em>. (QS. </em><em>Al Hajj</em><em>:</em><em> </em><em>1)</em></p>
<p>dan firman-Nya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan</em><em>”</em><em> (QS.</em><em> Al Hashr</em><em>:18)</em></p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا</p>
<p><em>“</em><em>Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu</em><em>”</em><em> </em>(QS. Ath Thalaq:2-3).</p>
<p>Demikian juga firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al Qalam:34)<em> </em></p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا</p>
<p><em>“D</em><em>an barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya</em><em>”</em><em> (QS.</em><em> Ath Thalaq</em><em>:5) </em><em> </em></p>
<p>dan ayat yang semakna dengannya banyak sekali.</p>
<p>Wahai kaum muslimin, takutlah kepada Allah, bersegeralah melaksanakan ketakwaan dalam segala keadaan dan perhitungkanlahseluruh perkataan dan perbuatan serta pergaulan kalian. Amalan tersebut yang diperbolehkan maka tidak mengapa dikerjakan dan yang tidak diperbolehkan dalam syari’at maka hindarilah walaupun kalian tamak terhadapnya. Karena yang ada disisi Allah lebih baik dan kekal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah niscaya Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya. Kapan seorang hamba menjaga dan bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangannya, maka Allah akan memberikan mereka keutamaan yang timbul dari ketakwaan tersebut, berupa kemuliaan, kesuksesan, rezeki yang luas, kemudahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>
<p>Sudah jelas bagi semua orang yang memiliki akal dan pandangan, semua yang menimpa kebanyakan kaum muslimin berupa kekerasan hati, tidak suka dengan akhirat, berpaling dari sebab-sebab keselamatan, mengejar dunia dan sebab-sebab mendapatkannya dengan semangat dan ketamakan tanpa melihat hala dan harom dan tenggelam dalam lautan syahwat dan jenis-jenis kesia-siaan dan kelalaian. Semua itu disebabkan hati mereka telah berpaling dari akhirat dan lalai dari dzikir dan mencintai Allah serta dari tafakkur terhadap karunia, nikmat Allah dan ayat-ayatnya baik yang zhahir atau yang batin. Juga disebabkan tidak mempersiapkan diri untuk perjumpaan dengan Allah dan tidak pernah ingat keadaan menghadap-Nya dan berada di keadaan yang dahsyat, yaitu berada di surga atau di neraka.</p>
<p>Wahai kaum muslimin, lihatlah diri kalian, bertaubatlah kepada Allah dan belajarlah ilmu-ilmu agama kalian serta bersegeralah melaksanakan kewajiban Allah dan menjauhi laranganNya agar kalian mendapatkan kemuliaan, petunjuk dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Berhati-hatilah dari tenggelam dalam dunia dan mendahulukannya dari akhirat, karena hal itu adalah sifat musuh-musuh Allah dan musuh kalian dari kalangan orang kafir dan munafik. Juga termasuk sebab adzab didunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah dalam mensifati musuhNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">إِنَّ هَؤُلآءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَآءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلاً</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat</em><em>”</em><em>. </em>(QS. Al Insan: 27)</p>
<p>dan Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">فَلاَتُعْجِبُكَ أَمْوَالُهُمْ وَلآَأَوْلاَدُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir</em><em>”</em><em> </em>(QS. At Taubah:55)</p>
<p>Sedangkan kalian tidak diciptakan untuk dunia, tapi kalian diciptakan untuk akhirat dan diperintahkan untuk mencari bekal untuknya. Bahkan dunia diciptakan untuk kalian agar digunakan untuk beribadah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dan untuk bersiap menghadap kepadaNya. Sehingga kalian berhak mendapatkan keutamaan, karunia dan pertolonganNya di surga yang penuh kenikmatan.</p>
<p>Buruk sekali secara akal orang yang berpaling dari ibadah (enggan beribadah) kepada sang pencipta dan pemeliharanya dan berpaling dari karunia yang telah dijanjikanNya dan meninggalkannya dengan mendahulukan syahwat kebinatangannya dan ketamakannya dalam mencapai tujuan dunia yang fana’. Padahal Allah telah menjanjikan sesuatu yang lebih baik dan bagus akibatnya didunia dan akhirat. Hendaknya seorang muslim berhati-hati terhadap sikap tertipu dengan jumlah banyaknya manusia dan menyatakan: “Sungguh manusia telah melakukannya dan terbiasa dengan hal itu, maka saya pun ikut bersama mereka”. Karena hal ini adalah musibah besar yang telah menghancurkan kebanyakan orang terdahulu. Tapi –wahaai orang yang berakal- wajib bagimu untuk melihat dirimu, mengevaluasinya dan berpegang teguh kepada kebenaran walaupun manusia meninggalkannya. Berhati-hatilah dari smua larangan Allah walaupun seluruh manusai melakukannya, karena kebenaran lebih berhak dikuti dari yang lainnya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al An’am: 116)</p>
<p>dan firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَمَآأَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ</p>
<p><em>“</em><em>Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya</em><em>”</em><em> </em>(QS. Yusuf:103).</p>
<p>Sebagian salaf menyatakan: “Janganlah meninggalkan kebenaran karena sedikitnya orang yang ikut dan jangan tertipu dengan kebatilan karena banyaknya orang yang binasa (karena mengikutinya)”. Inilah nasehat saya. Saya ingin menutup nasehat saya ini dengan menyebutkan lima perkara yang merupakan sumber seluruh kebaikan:</p>
<p><strong>Pertama: </strong>ikhlas kepada Allah dalam seluruh perkataan dan perbuatan yang mendekatkan diri kepadanya. Berhati-hatilah dari seluruh kesyirikan baik yang tersembunyi ataupun yang jelas. Inilah kewajiban dan perkara terpenting dan merupakan makna La ilaaha Illa Allah. Amalan ibadah dan perkataannya tidak sah kecuali dengan benar dan selamatnya pokok ini, sebagaimana firman Allah :</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p><em>“</em><em>Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi</em><em>”</em><em> </em>(QS. Az Zumaar:65)<em> </em><br />
<strong>Kedua: </strong>memahami Al Qur’an dan sunnah Rasulullah dan berpegang teguh kepada keduanya serta bertanya kepada ahli ilmu (ulama) tentang semua yang belim jelas dari perkara agama kalian. Inilah kewajiban bagi setiap muslim. Tidak boleh ia meninggalkan dan berpaling darinya lalu berjalan sekehendak akal dan hawa nafsunya tanpa ilmu dan bashiroh. Inilah makna syahadat Muhammad Rasulullah, karena sahadat ini mengharuskan seorang hamba untuk beriman bahwa Muhammad adalah benar-benar Rasulullah, berpegang teguh kepada ajarannya, membenarkan beritanya dan tidak menyembah Allah kecuali dengan syar’at yang ditetapkan dengan lisan Rasulullah, sebagaimana Allah berfirman:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p><em>“</em><em>Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al Imran:31)<em> </em></p>
<p>Dan firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا</p>
<p><em>“</em><em>Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah</em><em>”</em> (QS. Al Hasyr :7)</p>
<p>dan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“</em><em>Barang siapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku atasnya maka ia tertolak</em><em>”</em> Diriwayatkan oleh Muslim dalam <em>S</em><em>h</em><em>a</em><em>hih</em>-nya.</p>
<p>Setiap orang yang berpaling dari Al Qur’an dan sunnah pasti mengikuti hawa nafsu lagi bermaksiat kepada Allah dan berhak mendapatkan kemurkaan dan adzab, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ</p>
<p><em>“</em><em>Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim</em><em>”</em><em> </em>(QS. Al Qashosh:50)</p>
<p>Allah berfirman dalam menyifati orang kafir:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَاتَهْوَى اْلأَنفُسُ وَلَقَد جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَى</p>
<p><em>“</em><em>Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka</em><em>”</em><em> </em>(QS. An Najm:23)<em> </em><em> </em></p>
<p>mengikuti hawa nafsu –<em>wal’iyadzu billah</em>- menghapus cahaya hati dan menghalangi kebenaran, sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَلاَتَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ</p>
<p><em>“D</em><em>an janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah</em><em>”</em><em> </em>(QS. Shad:26)</p>
<p>Maka jauhkanlah diri kalian -<em>s</em><em>emoga Allah merahmati kalian</em>- dari sikap mengikuti hawa nafsu dan berpaling dari petunjuk (meninggalkan petunjuk). Hendaknya kalian berpegang teguh kepada kebenaran dan mendakwahkannya dan berhati-hatilah dari orang yang menyelisihi kebenaran, agar kalian memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> menegakkan dan menjaga shalat lima waktu berjamaah, karena ini adalah kewajiban yang terpenting dan terbesar setelah syahadatain. Ia merupakan tiang agama dan rukun kedua dari rukun islam. Juga ia adalah amalan pertama hamba yang dihisab pada hari kiamat. Barang siapa yang menjaganya maka ia telah menjaga agamanya dan siapa yang meninggalkannya maka ia telah berpisah dari islam. Alangkah ruginya dan jelek akibatnya pada hari ia menghadap Allah. Oleh karena itu hendaklah kalian menjaganya dan saling menasehati dalam menjaganya. Juga mengingkari orang yang meninggalkannya dan menghijrahinya (memboikotnya), karena hal ini termasuk saling tolong menolong dalam kabaikan dan takwa (<em>Ta’awun ‘Alal Birri wat Taqwa</em>). Hal ini berdasarkan hadits shahih dari Nabi , beliau bersabda:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَر</p>
<p><em>“</em><em>Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat, mak barang siapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir</em><em>”. </em>Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan <em>A</em><em>sh</em><em>h</em><em>abus </em><em>S</em><em>unan</em> dengan sanad yang shahih. Demikian juga sabda beliau:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">بَيْنَ الرَّجُلِ وَ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ</p>
<p><em>“</em><em>Antara seorang dengan kufur dan syirik adalah meninggalkan sholat</em><em>”</em><em>. </em>Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam <em>Sh</em><em>a</em><em>hih</em>-nya.  Dan Rasulullah pun bersabda:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ</p>
<p><em>“</em><em>Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. Itulah yang paling lemah</em><em>”</em><em> </em>Diriwayatkan oleh <em>I</em><em>mam Muslim</em> dalam <em>S</em><em>h</em><em>a</em><em>hih</em>-nya.</p>
<p><strong>Keempat:</strong> memperhatikan masalah zakat dan semangat mengeluarkannya sebagaimana telah Allah wajibkan, karena ia adalah rukun ketiga dari rukun islam, sehingga wajiba atas setiap muslimin yang mukalaf untuk menghitung harta yang akan dizakati dan menelitinya serta mengeluarkan zakatnya setiap berlalu satu tahun (berlalu <em>haul</em>-nya), jika telah sampai <em>nish</em><em>a</em><em>b</em> zakat. Lalu rela dan lapang dada dalam mengeluarkannya untuk melaksanakan kewajiban Allah dan untuk mensyukuri nikmat-Nya serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah. Kapan seorang hamab melakukannya maka Allah akan melipatkan pahalanya, menggantikan apa yang telah dikeluarkan, memberi barokah dan dikembangkankan serta disucikan harta tersebut, sebagaimana firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p><em>“</em><em>Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketemtraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em><em>”</em><em> </em>(QS. At Taubah:103)<em>.</em></p>
<p>Ketika seorang berbuat bakhil dan meremehkan perkara zakat ini, maka Allah murka kepadanya, menghilangkan barokah harta dan menimpakan kepadanya sebab kehancuran serta menghabiskannya didalam kebatilan. Ditambah dengan adzab dihari kimat nanti, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ</p>
<p><em>“</em><em>Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih</em><em>”</em><em> </em>(QS. At Taubah:34) seluruh harta yang tidak dikeluarkan zakatnya maka ia menjadi gudang yang menjadi sebab pemiliknya diadzab pada hari kiamat. Semoga Allah melindungi kami dan kalian semua darinya.</p>
<p>Sedangkan orang yang belum <em>muka</em><em>l</em><em>laf</em> dari kaum muslimin, seperti anak kecil dan orang gila, maka diwajibkan kepada walinya (orang yang bertanggung jawab pemeliharaannya) memperhatikan pengeluaran zakat hartanya setiap berlalu setahun (<em>haul</em>). Hal ini karena keumuman dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang menunjukkan kewajiban zakat pada harta seorang muslim, baik <em>mukallaf</em> atau tidak.</p>
<p><strong>Kelima: </strong>diwajibkan kepada seluruh mukallaf dari kalangan kaum muslimin baik laki-laki atau perempuan untuk menta’ati Allah dan RasulNya dalam seluruh perintah Allah dan RasulNya, seperti puasa romadhon, haji jika mampu dan seluruh perintah Allah dan RasulNya yang lain. Juga wajib bagi mereka untuk mengagungkan kesucian Allah dan bertafakur pada tujuan penciptaan dan perintahNya serta selalu mengevaluasi (introspeksi/<em>m</em><em>uhasabah</em>) dirinya dalam hal itu. Jika ia telah melaksanakan kewajiban yang Allah berikan kepadanya maka berbahagialah, pijilah Allah dan mintalah keistiqomahan serta berhati-heti dari perasaan sombong, <em>ujub</em> (bangga diri) dan memuji diri. Jika belum melaksanakannya atau melakukan pelanggaran sebagaian keharaman Allah , maka bersegeralah bertaubat yang benar, menyesal dan istiqamah dalam perintah Allah dan memperbanyak dzikir, <em>istighfar</em>, mengadu kepada Allah dan meminta taubat dari dosa yang telah lalu serta meminta taufiq untuk dapat berbicara dan beramal baik. Ketika seorang hamba dimudahkan memiliki perkara-perkara diatas maka itulah alamat kebahagian dan keselamatannya di dunia dan akhirat. Ketika mereka lalai dari sirinya dan mengekor hawa nafsu dan syahwatnya serta tidak mempersiapkan diri untuk akhirat, mak itu adalah tanda kehancuran dan kerugiannya.</p>
<p>Hendaknya setiap kalian melihat dirinya dan meng-<em>hisab</em> (introspeksi) serta membongkar aibnya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang membuatnya berduka dan menyibukkan diri sendiri serta mengharuskannya merendah dan bersimpuh kepada Allah dan meminta maaf dan ampunanNya. <em>Muhasabah</em>, merendah dan bersimpuh dihadapan Allah inilah sebab kebahagian, kesuksesan dan kemulian di dunia dan akhirat.</p>
<p>Hendaknya setiap muslim mengetahui bahwa seluruh kesehatan, kedudukan yang tinggi, kemudahan dan kesenangan yang ia dapatkan adalah dari keutamaan Allah dan kebaikan-Nya. Demikian juga sakit, musibah, kemiskinan, kesusahan, penjajahan musuh dan lain-lainnya dari musibah yang menimpanya adalah dengan sebab dosa dan kemaksiatannya.</p>
<p>Sehingga sebab seluruh yang ada didunia dan akhirat dari adzab dan sakit adalah kemaksiatan, penyepisihi perintah Allah dan meremehkan hak-hak-Nya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</p>
<p><em>“</em><em>Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)</em><em>”</em><em> </em>(QS. Asy Syura’:30)</p>
<p>dan firmanNya:</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar</em><em>)”</em><em> </em>(QS. Ar Rum:41)<em> </em></p>
<p>Wahai hamba Allah bertakwalah kepada Allah, agungkanlah perintah dan laranganNya, bersegeralah bertaubat dari semua dosa kalian dan bersandar dan bertawakallah kepada Allah, karena Ia adalah sang pencipta dan pemberi rezeki makhluk. Seluruh kehidupan mereka berada di tangan Allah, tiada seorangpun yang memiliki dirinya, baik memberikan <em>madh</em><em>a</em><em>rat</em>, manfaat, kematian, kehidupan dan kebangkitan.</p>
<p>Dahulukanlah hak dan ketaatan Allah dan Rasul-Nya dari siapa saja selainnya. Ber-<em>amar ma</em><em>’</em><em>ruf nahi mungkar</em>-lah diantara kalian, berprasangka baiklah kepada Allah, perbanyak dzikir dan <em>istighfar</em>, saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan jangan dalam dosa dan permusuhan, bawalah orang-orang bodoh dan paksalah mereka patuh kepada perintah Alah dan cegahlah mereka dari melanggar hal-hal yang diharamkan-Nya, cinta dan bencilah karena Allah, berilah loyalitas kepada para wali Allah dan musuhilah musuh-musuh Allah, bersabarlah dan teruslah bersabar sampai menjumpai Allah agar kalian memperoleh puncak kebahagiaan, kemudahan, kemuliaan, dan tempat yang tinggi di surga yang penuh kenikmatan.</p>
<p style="font-size:22px;text-align:right;font-family:Traditional Arabic;">والله المسؤول أن يوفقنا وإياكم لما يُرضه، وأن يصلح قلوب الجميع، ويعمرها بخشيته ومحبته وتقواه، والنصح له ولعباده، وأن يعيذنا وإياكم من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، وأن يوفق ولاة أمرنا وسائر ولاة أمر المسلمين لما يرضيه، وأن ينصر بهم الحق ويخذل بهم الباطل، وأن يعيذ الجميع من مضلات الفتن، إنه ولي ذلك والقادر عليه.<br />
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته … وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم</p>
<p>—</p>
<p>[Diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. dari sahab.net]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&blog=2190719&post=416&subd=syabaabussunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2009/09/10/nasehat-terakhir-syaikh-ibnu-baz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>