<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SYABAABUSSUNNAH</title>
	<atom:link href="http://syabaabussunnah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com</link>
	<description>Ilmiyah...Amaliyah...Salafiyyah...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Jan 2012 01:08:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='syabaabussunnah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SYABAABUSSUNNAH</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://syabaabussunnah.wordpress.com/osd.xml" title="SYABAABUSSUNNAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://syabaabussunnah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pembatal–Pembatal Keislaman</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/11/30/pembatal-pembatal-keislaman/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/11/30/pembatal-pembatal-keislaman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 03:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=765</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Berikut ini akan kami sebutkan sebagiannya: 1. Menyekutukan Allah (syirik). Yaitu menjadikan sekutu atau menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Misalnya berdo’a, memohon syafa’at, bertawakkal, beristighatsah, bernadzar, menyembelih yang ditujukan kepada selain Allah, seperti menyembelih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=765&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh<br />
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</p>
<p style="text-align:justify;">Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Berikut ini akan kami sebutkan sebagiannya:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menyekutukan Allah (syirik).<br />
Yaitu menjadikan sekutu atau menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Misalnya berdo’a, memohon syafa’at, bertawakkal, beristighatsah, bernadzar, menyembelih yang ditujukan kepada selain Allah, seperti menyembelih untuk jin atau untuk penghuni kubur, dengan keyakinan bahwa para sesembahan selain Allah itu dapat menolak bahaya atau dapat mendatangkan manfaat.<span id="more-765"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya&#8230;” [An-Nisaa': 48]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ</p>
<p style="text-align:justify;">“&#8230; Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maa-idah: 72]</p>
<p style="text-align:justify;">2. Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafa’at, serta bertawakkal kepada mereka.<br />
Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا</p>
<p style="text-align:justify;">“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sekutu) selain Allah, maka tidaklah mereka memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula dapat memindahkannya.’ Yang mereka seru itu mencari sendiri jalan yang lebih dekat menuju Rabb-nya, dan mereka mengharapkan rahmat serta takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Israa': 56-57][2]</p>
<p style="text-align:justify;">3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat me-reka.<br />
Yaitu orang yang tidak mengkafirkan orang-orang kafir -baik dari Yahudi, Nasrani maupun Majusi-, orang-orang musyrik, atau orang-orang mulhid (Atheis), atau selain itu dari berbagai macam kekufuran, atau ia meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, maka ia telah kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam&#8230;” [Ali ‘Imran: 19][3]</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk juga seseorang yang memilih kepercayaan selain Islam, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunis, sekularisme, Masuni, Ba’ats atau keyakinan (kepercayaan) lainnya yang jelas kufur, maka ia telah kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Juga firman-Nya:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka, namun ia menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, ia tidak mau mengkafirkan mereka, atau meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, sedangkan kekufuran mereka itu telah menentang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah: 6]</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud Ahlul Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sedangkan kaum musyrikin adalah orang-orang yang menyembah ilah yang lain bersama Allah.[4]</p>
<p style="text-align:justify;">4. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna dari Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk juga di dalamnya adalah orang-orang yang meyakini bahwa peraturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih afdhal (utama) daripada sya’riat Islam, atau orang meyakini bahwa hukum Islam tidak relevan (sesuai) lagi untuk diterapkan di zaman sekarang ini, atau orang meyakini bahwa Islam sebagai sebab ketertinggalan ummat. Termasuk juga orang-orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum rajam bagi orang yang (sudah menikah lalu) berzina sudah tidak sesuai lagi di zaman sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Juga orang-orang yang menghalalkan hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan Rasul-Nya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil syar’i yang telah tetap, seperti zina, riba, meminum khamr, dan berhukum dengan selain hukum Allah atau selain itu, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al-Maa-idah: 50]</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“&#8230; Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” [Al-Maa-idah: 44]</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“&#8230; Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 45]</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“&#8230; Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Maa-idah: 47]</p>
<p style="text-align:justify;">5. Tidak senang dan membenci hal-hal yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia telah kafir.<br />
Yaitu orang yang marah, murka, atau benci terhadap apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, walaupun ia melakukannya, maka ia telah kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang di-turunkan Allah (Al-Qur-an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad: 8-9]</p>
<p style="text-align:justify;">Juga firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) setelah jelas petunjuk bagi mereka, syaithan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): ‘Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan,’ sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka dan punggung mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad: 25-28]</p>
<p style="text-align:justify;">6. Menghina Islam<br />
Yaitu orang yang mengolok-olok (menghina) Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur-an, agama Islam, Malaikat atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di ‘Arafah atau menghina masjid, adzan, memelihara jenggot atau Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama Allah pada tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta terdapat keberkahan padanya, maka dia telah kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“… Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [At-Taubah: 65-66]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align:right;">وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” [Al-An’aam: 68]</p>
<p style="text-align:justify;">7. Melakukan Sihir<br />
Yaitu melakukan praktek-praktek sihir, termasuk di dalamnya ash-sharfu dan al-‘athfu.<br />
Ash-sharfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian terhadapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun al-‘athfu adalah amalan sihir yang dimaksudkan untuk memacu dan mendorong seseorang dari apa yang tidak dicintainya sehingga ia mencintainya dengan cara-cara syaithan.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ</p>
<p style="text-align:justify;">“&#8230;Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir&#8230;’” [Al-Baqarah: 102]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:center;">إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah (pelet) adalah perbuatan syirik.’” [5]</p>
<p style="text-align:justify;">8. Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum Muslimin</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin bagimu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 51][6]</p>
<p style="text-align:justify;">Juga firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan sebagai pemimpin, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan dari orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertawakkallah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [Al-Maa-idah: 57]</p>
<p style="text-align:justify;">9. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
Yaitu orang yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari sya’riat (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi Khidir dibolehkan keluar dari sya’riat Nabi Musa Alaihissallam, maka ia telah kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena seorang Nabi diutus secara khusus kepada kaumnya, maka tidak wajib bagi seluruh menusia untuk mengikutinya. Adapun Nabi kita, Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia secara kaffah (menyeluruh), maka tidak halal bagi manusia untuk menyelisihi dan keluar dari syari’at beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا</p>
<p style="text-align:justify;">“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua&#8230;’” [Al-A’raaf: 158]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Saba’: 28]</p>
<p style="text-align:justify;">Juga firman-Nya:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa': 107]</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:center;">أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” [Ali ‘Imran: 83]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam hadits disebutkan:</p>
<p style="text-align:center;">وَاللهِ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ.</p>
<p style="text-align:justify;">“Demi Allah, jika seandainya Musa q hidup di tengah-tengah kalian, niscaya tidak ada keleluasaan baginya kecuali ia wajib mengikuti syari’atku.”[7]</p>
<p style="text-align:justify;">10. Berpaling dari agama Allah Ta’ala, ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya.<br />
Yang dimaksud dari berpaling yang termasuk pembatal dari pembatal-pembatal keislaman adalah berpaling dari mempelajari pokok agama yang seseorang dapat dikatakan Muslim dengannya, meskipun ia jahil (bodoh) terhadap perkara-perkara agama yang sifatnya terperinci. Karena ilmu terhadap agama secara terperinci terkadang tidak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali para ulama dan para penuntut ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align:center;">وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“&#8230; Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” [Al-Ahqaaf: 3]</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” [As-Sajdah: 22]</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align:center;">وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” [Thaahaa: 124]</p>
<p style="text-align:justify;">Yang mulia ‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alusy Syaikh ketika memulai Syarah Nawaaqidhil Islaam, beliau berkata: “Setiap Muslim harus mengetahui bahwa membicarakan pembatal-pembatal keislaman dan hal-hal yang menyebabkan kufur dan kesesatan termasuk dari perkara-perkara yang besar dan penting yang harus dijalani sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Tidak boleh berbicara tentang takfir dengan mengikuti hawa nafsu dan syahwat, karena bahayanya yang sangat besar. Sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh dikafirkan dan dihukumi sebagai kafir kecuali sesudah ditegakkan dalil syar’i dari Al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebab jika tidak demikian orang akan mudah mengkafirkan manusia, fulan dan fulan, dan menghukuminya dengan kafir atau fasiq dengan mengikuti hawa nafsu dan apa yang diinginkan oleh hatinya. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang diharamkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Al-Hujuraat: 8]</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, wajib bagi setiap Muslim untuk berhati-hati, tidak boleh melafazhkan ucapan atau menuduh seseorang dengan kafir atau fasiq kecuali apa yang telah ada dalilnya dari Al-Qur-an dan As-Sunnah. Sesungguhnya perkara takfir (menghukumi seseorang sebagai kafir) dan tafsiq (menghukumi seseorang sebagai fasiq) telah banyak membuat orang tergelincir dan mengikuti pemahaman yang sesat. Sesungguhnya ada sebagian hamba Allah yang dengan mudahnya mengkafirkan kaum Muslimin hanya dengan suatu perbuatan dosa yang mereka lakukan atau kesalahan yang mereka terjatuh padanya, maka pemahaman takfir ini telah membuat mereka sesat dan keluar dari jalan yang lurus.” [8]</p>
<p style="text-align:justify;">Imam asy-Syaukani (Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, hidup tahun 1173-1250 H) rahimahullah berkata: “Menghukumi seorang Muslim keluar dari agama Islam dan masuk dalam kekufuran tidak layak dilakukan oleh seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, melainkan dengan bukti dan keterangan yang sangat jelas -lebih jelas daripada terangnya sinar matahari di siang hari-. Karena sesungguhnya telah ada hadits-hadits yang shahih yang diriwayatkan dari beberapa Sahabat, bahwa apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir,’ maka (ucapan itu) akan kembali kepada salah seorang dari keduanya. Dan pada lafazh lain dalam Shahiihul Bukhari dan Shahiih Muslim dan selain keduanya disebutkan, ‘Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekufuran, atau berkata musuh Allah padahal ia tidak demikian maka akan kembali kepadanya.’</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits tersebut menunjukkan tentang besarnya ancaman dan nasihat yang besar, agar kita tidak terburu-buru dalam masalah kafir mengkafirkan.” [9]</p>
<p style="text-align:justify;">Pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan di atas adalah hukum yang bersifat umum. Maka, tidak diperbolehkan bagi seseorang tergesa-gesa dalam menetapkan bahwa orang yang melakukannya langsung keluar dari Islam. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pengkafiran secara umum sama dengan ancaman secara umum. Wajib bagi kita untuk berpegang kepada kemutlakan dan keumumannya. Adapun hukum kepada orang tertentu bahwa ia kafir atau dia masuk Neraka, maka harus diketahui dalil yang jelas atas orang tersebut, karena dalam menghukumi seseorang harus terpenuhi dahulu syarat-syaratnya serta tidak adanya penghalang.” [10]</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Syarat-syarat seseorang dapat dihukumi sebagai kafir adalah:<br />
1. Mengetahui (dengan jelas),<br />
2. Dilakukan dengan sengaja, dan<br />
3. Tidak ada paksaan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syabaabussunnah.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syabaabussunnah.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syabaabussunnah.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syabaabussunnah.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/765/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=765&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/11/30/pembatal-pembatal-keislaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Untuk Meraih Ilmu Yang Bermanfaat</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/06/22/jalan-untuk-meraih-ilmu-yang-bermanfaat/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/06/22/jalan-untuk-meraih-ilmu-yang-bermanfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 10:18:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=759</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullahditanya, Bagaimana cara yang benar yang mesti ditempuh oleh seorang yang mempelajari Islam (tholibul ‘ilmi) sehingga ia bisa meraih ridho Allah subhanahu wa ta’ala, bisa meraih ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan kaum muslimin? Apa cara yang bisa menolong seorang yang mempelajari Islam agar kuat dalam hafalan, pintar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=759&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullah</em>ditanya,</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana cara yang benar yang mesti ditempuh oleh seorang yang mempelajari Islam (tholibul ‘ilmi) sehingga ia bisa meraih ridho Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>, bisa meraih ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan kaum muslimin? Apa cara yang bisa menolong seorang yang mempelajari Islam agar kuat dalam hafalan, pintar dalam memahami masalah dan tidak mudah lupa?</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab,</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab utama untuk meraih ilmu yang bermanfaat adalah <strong>bertakwa pada Allah</strong>, dengan mentaati-Nya dan meninggalkan berbagai maksiat. Juga hendaklah ia ikhlas, banyak bertaubat serta banyak memohon pertolongan dan taufik Allah. Kemudian hendaklah ia banyak perhatian pada pelajaran dan banyak mengulang-ngulang. Tak lupa pula ia harus pandai mengatur waktu. Inilah sebab utama.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab lainnya lagi yang bisa membantu adalah seringnya mengulang-ngulang pelajaran bersama teman karib, juga semangat mencatat faedah ilmu sehingga ilmu yang diperoleh semakin mantap (kokoh). Jadi tidaklah cukup hanya dengan menghadiri majelis ilmu dan belajar dari ustadz (guru). Bahkan sangat perlu seseorang untuk banyak mengulang pelajaran bersama teman karibnya sehingga terselesaikanlah hal-hal yang masih belum dipahami. Dengan demikian, ilmunya akan semakin kokoh dalam benaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">[<em>Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah</em>, Jilid ke-23. Link: <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/3312">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/3312</a>]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syabaabussunnah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syabaabussunnah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syabaabussunnah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syabaabussunnah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/759/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=759&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/06/22/jalan-untuk-meraih-ilmu-yang-bermanfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit Syubhat Dan Syahwat</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/06/11/penyakit-syubhat-dan-syahwat/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/06/11/penyakit-syubhat-dan-syahwat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 10:10:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=755</guid>
		<description><![CDATA[PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT Oleh Ustadz Muslim Atsari Syaithan merupakan musuh nyata manusia. Dia selalu berusaha menjerumuskan manusia kedalam jurang kekafiran, kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam menjalankan aksinya itu syaithan memiliki dua senjata ampuh yang telah banyak makan korban. Dua senjata itu adalah syubhat dan syahwat. Dua penyakit yang menyerang hati manusia dan merusakkan perilakunya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=755&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh<br />
Ustadz Muslim Atsari</p>
<p style="text-align:justify;">Syaithan merupakan musuh nyata manusia. Dia selalu berusaha menjerumuskan manusia kedalam jurang kekafiran, kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam menjalankan aksinya itu syaithan memiliki dua senjata ampuh yang telah banyak makan korban. Dua senjata itu adalah syubhat dan syahwat. Dua penyakit yang menyerang hati manusia dan merusakkan perilakunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Penyakit syubhat yang menimpa hati seseorang akan merusakkan ilmu dan keyakinannya. Sehingga jadilah “perkara ma’ruf menjadi samar dengan kemungkaran, maka orang tersebut tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Bahkan kemungkinan penyakit ini menguasainya sampai dia menyakini yang ma’ruf sebagai kemungkaran, yang mungkar sebagai yang ma’ruf, yang sunnah sebagai bid’ah, yang bid’ah sebagai sunnah, al-haq sebagai kebatilan, dan yang batil sebagai al-haq”. [Tazkiyatun Nufus, hal: 31, DR. Ahmad Farid]</p>
<p style="text-align:justify;">Penyakit syubhat ini misalnya: keraguan, kemunafikan, bid’ah, kekafiran, dan kesesatan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syahwat artinya selera, nafsu, keinginan, atau kecintaan. Sedangkan fitnah syahwat (penyakit mengikuti syahwat) adalah mengikuti apa-apa yang disenangi oleh hati/nafsu yang keluar dari batasan syari’at.<span id="more-755"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Fitnah syahwat ini akan menyebabkan kerusakan niat, kehendak, dan perbuatan orang yang tertimpa penyakit ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyakit syahwat ini misalnya: rakus terhadap harta, tamak terhadap kekuasaan, ingin populer, mencari pujian, suka perkara-perkara keji, zina, dan berbagai kemaksiatan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">KEKHAWATIRAN RASULULLAH TERHADAP PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan. [HR. Ahmad dari Abu Barzah Al-Aslami. Dishahihkan oleh Syaikh Badrul Badr di dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal: 21]</p>
<p style="text-align:justify;">Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan adalah fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua fitnah ini sesungguhnya juga telah menimpa orang-orang zaman dahulu dan telah membinasakan mereka. Allah berfirman.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالاً وَأَوْلاَدًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاَقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم بِخَلاَقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلاَقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أَوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">(Keadaan kamu hai orang-oang munafik dan musyirikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah nikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagian mereka, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi. [At Taibah :69]</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Allah menggabungkan antara “menikmati bagian” dengan “mempercakapkan (hal yang batil)”, karena kerusakan agama itu kemungkinan:</p>
<p style="text-align:justify;">• terjadi pada keyakinan yang batil dan mempercakapkannya (hal yang batil)<br />
• atau terjadi pada amalan yang menyelisihi i’tiqad yang haq.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama adalah bid’ah-bid’ah dan semacamnya. Yang kedua adalah amalan-amalan yang fasiq. Yang pertama dari sisi syubhat-syubhat. Yang kedua dari sisi syahwat-syahwat.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itulah Salafush Shalih dahulu menyatakan: “Waspadalah kamu dari dua jenis manusia: Pengikut hawa-nafsu yang telah disesatkan oleh hawa-nafsunya (inilah fitnah syubhat-pen), pemburu dunia yang telah dibutakan oleh dunianya (ini fitnah syahwat-pen)”.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka juga menyatakan: “Waspadailah kesesatan orang ‘alim (ahli ilmu) yang durhaka (karena terkena fitnah syahwat-pen), dan kesesatan ‘abid (ahli ibadah) yang bodoh (karena terkena fitnah syubhat-pen), karena kesesatan keduanya itu merupakan kesesatan tiap-tiap orang yang tersesat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Maka yang itu (orang ‘alim yang durhaka) menyerupai (orang-orang Yahudi) yang dimurkai, orang-orang yang mengetahui al-haq, tetapi tidak mengikutinya. Sedangkan yang ini (‘abid yang bodoh) menyerupai (orang-orang Nashara) yang sesat, orang-orang yang beramal tanpa ilmu.” [Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 55, tahqiq Syaikh Khalid Abdul Lathif As-Sab’ Al-‘Alami]</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata: “Firman Allah Azza wa Jalla : “kamu telah nikmati bagianmu” mengisyaratkan pada mengikuti hawa-nafsu syahwat, ini merupakan penyakit para pelaku maksiat. Dan firman Allah: “Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya” mengisyaratkan pada mengikuti syubhat-syubhat, ini merupakan penyakit para pelaku bid’ah, pengikut hawa-nafsu, dan perdebatan-perdebatan. Dan sangat sering keduanya (penyakit itu) berkumpul. Maka jarang engkau dapati orang yang aqidahnya ada kerusakan, kecuali hal itu nampak pada lahiriyahnya.” [Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 55]</p>
<p style="text-align:justify;">JENIS-JENIS FITNAH SYUBHAT<br />
1. Di antara fitnah syubhat terbesar adalah kekafiran. Karena sesungguhnya orang-orang kafir itu berada di dalam kesesatan tetapi mereka menyangka berada di atas kebenaran dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً {103} الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا {104} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالَهُمْ فَلاَنُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا {105}</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Katakanlah:&#8221;Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya&#8221;. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. [Al Kahfi : 103 - 105]</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah orang-orang kafir tersebut! Amalan mereka terhapus dan sia-sia, tetapi mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya!! Alangkah ruginya mereka!!!</p>
<p style="text-align:justify;">2. Di antara fitnah syubhat yang tak kalah dahsyat adalah kemunafikan.<br />
Simaklah firman Allah Azza wa Jalla.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذّابٌ أَلِيمُ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ {10} وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ {11}</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam hati mereka (orang-orang munafik) ada penyakit (syubhat; keraguan), lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, &#8220;Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,&#8221; mereka menjawab, &#8220;Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.&#8221; [Al Baqarah : 10-11]</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah orang-orang munafik ini, mereka nyata-nyata berbuat kerusakan, tetapi mereka menyangka mengadakan perbaikan!</p>
<p style="text-align:justify;">3. Di antara bentuk fitnah syubhat yang lain adalah fitnah bid’ah dan mengikuti hawa-nafsu. Fitnah ini menyebabkan umat terpecah-belah menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: “Adapun fitnah syubuhat (syubhat-syubhat), maka telah diriwayatkan dari Nabi dengan banyak jalan bahwa umat beliau akan berpecah-belah menjadi lebih dari 70 kelompok, sesuai dengan perbedaan riwayat-riwayat jumlah kelebihan dari 70 (yang shahih dan terpilih 73 kelompok-pen), dan bahwa seluruh kelompok tersebut di dalam neraka kecuali satu saja, yaitu kelompok yang berada di atas apa yang Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya ada padanya”. [Kasyful Kurbah, hal: 19]</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah, sesungguhnya Ahlul Kitab sebelum kamu telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah-belah menjadi 73 agama. 72 di dalam neraka, dan sati di dalam sorga, yaitu Al-Jama’ah. (Di dalam hadits Ibnu ‘Amr dan Yahya ada tambahan:) Dan sesungguhnya akan muncul beberapa kaum dari kalangan umatku yang hawa-nafsu menjalar pada mereka sebagaimana virus rabies menjalar pada tubuh penderitanya. Tidak tersisa satu urat dan persendian kecuali sudah dijalarinya. [HR. Abu Dawud, Ahmad, Darimi, Ibnu Abi Ashim. Al-Hakim, dan lainnya. Dishahihkan oleh Al-Hakim, disetujui Adz-Dzahabi, juga Syeikh Al-Albani di dalam Dzilalul Jannah I/7]</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah firqah-firqah yang ada di kalangan umat Islam ini, mereka semua mengaku di atas al-haq, sedangkan mereka saling menyatakan sesat terhadap kelompok yang lain. Alangkah besarnya syubhat yang ditanamkan syaithan ini!</p>
<p style="text-align:justify;">JENIS-JENIS FITNAH SYAHWAT<br />
Macam-macam fitnah syahwat ini sumbernya terangkum dalam “kenikmatan kehidupan dunia” sebagaimana Allah Azza wa Jalla firmankan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ {14}</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran :14]</p>
<p style="text-align:justify;">Maka di antara fitnah syahwat adalah:<br />
a). Fitnah Wanita.<br />
Inilah fitnah pertama dan terbesar serta paling berbahaya bagi laki-laki! Rasulullah sudah memperingatkan hal ini di dalam sabda beliau:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebioh berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita. [HR. Bukhari no: 5096, Muslim no: 2740, dan lainnya, dari Usamah bin Zaid]</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita…” (Ali-Imran:14), yang Allah menjadikan wanita termasuk “hubbu syahawat” (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis yang lain sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan pokok hal itu”. [Fathul Bari]</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara adalah mentaati para wanita”. [Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 257]</p>
<p style="text-align:justify;">Karena fitnah wanita, seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan karenanya. Seperti: memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga banyak pemuda atau orang tua yang menyimpan foto-foto wanita kekasihnya, atau artis film, penyanyi, dan lainnya, yang menyebabkan hatinya menjadi sakit, atau bahkan mati, karena dikuasai bayang-bayang wanita pujaannya itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk fitnah ini adalah laki-laki yang mentaati istri untuk memuaskan kesenangannya di dalam bersolek, berhias, dan bersenang-senang, sehingga berusaha mendapatkan harta berbagai cara, baik halal atau haram!<br />
Atau mencintai istri secara berlebihan sehingga lebih mengutamakannya dari siapapun bahkan orang-tuanya! Atau bahkan lebih mantaati istri daripada mentaati Allah dan Rasul-Nya!! Sehingga suami lebih memilih menemani istrinya daripada melaksanakan ketaatan, baik, shalat berjama’ah di masjid, berjihad fi sabililah dan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga digunakannya wanita sebagai media iklan, atau pelicin untuk meraih jabatan, kepuasan atasan, dan tujuan duniawi lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Wanita yang menggunakan daya-tariknya atau bahkan menjual tubuhnya untuk mendapatkan harta. Semua itu merupakan fitnah berbahaya yang ditimbulkan wanita.</p>
<p style="text-align:justify;">b). Fitnah Anak.<br />
Allah mengingatkan fitnah anak ini di dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ {15}</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghaabun: 14-15]</p>
<p style="text-align:justify;">c). Di antara fitnah syahwat adalah saling berlomba meraih dunia dan rakus terhadap harta sehingga menimbulkan iri, dengki, hasad dan saling menjauhi antar umat. Hal itu disebabkan dibukanya kemakmuran dan kemewahan hidup oleh Allah Ta’ala.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jika Persia dan Romawi dibukakan pada kamu, menjadi kaum yang mana kamu nanti? Abdurrahaman bin ‘Auf berkata: “Kami akan berkata sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasulullah. (Beliau berkata): “Atau (kamu akan melakukan) selain itu, kamu akan saling berlomba (meraih dunia), kemudian kamu akan saling hasad, kemudian kamu akan saling menjauhi, kemudian kamu akan saling membenci, atau semacamnya, kemudian kamu akan berangkat ke rumah-rumah orang-orang muhajirin, lalu sebagian kamu memukul leher sebagian yang lain. [HR. Muslim, Ibnu Majah, dan lainnya dari Abdulah bin Amr bin Al-Ash]</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits lain beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kamu. Tetapi aku khawatir atas kamu jika dunia dihamparkan atas kamu sebagaimana telah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu, kemudian kamu akan saling berlomba (meraih dunia) sebagaimana mereka saling berlomba (meraih dunia), kemudian dunia itu akan membinasakan kamu, sebagaimana telah membinasakan mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lainnya dari Amr bin Auf Al-Anshari]</p>
<p style="text-align:justify;">d). Tamak Terhadap Asy-Syaraf (kemuliaan, kedudukan, kehormatan, gengsi). Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberitakan tentang bahaya tamak terhadap asy-syaraf dengan sabdanya:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tidaklah dua srigala lapar yang dilepas pada seekor kambing lebih merusakkannya daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan (yang merusakkan) agamanya. [HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dari Ka’b bin Malik Al-Anshari. Dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Shuwar Minal Fitan, hal: 38]</p>
<p style="text-align:justify;">BENTENG FITNAH SYUBHAT DAN SYAHWAT<br />
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Asal seluruh fitnah (kesesatan) hanyalah dari sebab: mendahulukan fikiran terhadap syara’ (agama) dan mendahulukan hawa-nafsu terhadap akal.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama adalah asal fitnah syubhat, yang kedua adalah asal fitnah syahwat. Fitnah syubhat-syubhat ditolak dengan keyakinan, adapun fitnah syahwat ditolak dengan kesabaran. Oleh karena itulah Alloh menjadikan kepemimpinan agama tergantung dengan dua perkara ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. [As Sajdah:24]</p>
<p style="text-align:justify;">Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan akan dapat diraih kepemimpinan dalam agama. Alloh juga menggabungkan dua hal itu di dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dan mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al Hasr :3]</p>
<p style="text-align:justify;">Maka mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran yang menolak syubhat-syubhat, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran yang menghentikan syahwat-syahwat.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah juga menggabungkan antara keduanya di dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya&#8217;qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. [Ash Shaaffat :45]</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, fitnah syahwat akan ditolak. Dan dengan kesempurnaan ilmu dan keyakinan, fitnah syubhat akan ditolak [Mawaridul Amaan, hal: 414-415]</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahul Musta’an.</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syabaabussunnah.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syabaabussunnah.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syabaabussunnah.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syabaabussunnah.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/755/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=755&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/06/11/penyakit-syubhat-dan-syahwat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu Adzan dan Iqamah</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/05/19/waktu-adzan-dan-iqamah/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/05/19/waktu-adzan-dan-iqamah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 10:02:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Berapa banyak orang yang mengeluhkan doanya kok belum dikabulkan dan mencari-cari waktu yang baik untuk berdoa. bahkan ada yang tidak berdoa kecuali diwaktu terkena musibah. Padahal kita semua senantiasa membutuhkan anugerah nikmat dan rahmat Allah. Allah mudahkan kita diperintahkan berdoa dalam setiap saat, namun menjanjikan –melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam – adanya waktu-waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=751&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berapa banyak orang yang mengeluhkan doanya kok belum dikabulkan dan mencari-cari waktu yang baik untuk berdoa. bahkan ada yang tidak berdoa kecuali diwaktu terkena musibah. Padahal kita semua senantiasa membutuhkan anugerah nikmat dan rahmat Allah. Allah mudahkan kita diperintahkan berdoa dalam setiap saat, namun menjanjikan –melalui lisan Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> – adanya waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa agar kita lebih termotivasi untuk banyak berdoa.  Nah bila doa kita memenuhi syarat dan ngepasi waktu-waktu tersebut, tentunya akan lebih mungkin diijabahi lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Al-Qayyim menjelaskan, “Apabila berkumpul bersama doa kehadiran hati dan doa yang pas dengan kebutuhannya lalu bertepatan dengan salah satu waktu ijabah yang enam yaitu sepertiga malam terakhir, ketika adzan dan antara adzan dan iqamah, setelah sholat fardhu, ketika imam naik mimbar pada hari jumat hingga selesai shalat dan akhir waktu setelah ashar dari hari tersebut.<span id="more-751"></span> Kemudian juga bertepatan dengan kekhusyu’an dihati dan merendahkan diri dihadapan Allah dengan menghinakn diri,  tadharru’ dan orang tersebut menghadap kiblat dan bersuci serta mengangkat kedua tangannya kepada Allah. Juga memulai dengan memuji Allah kemudian bersholawat kepada Muhammad <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan setelah itu menyampaikan hajatnya dengan didahului dengan taubat dan istighfar kemudian meminta dan merengek dalam doanya tersebut ditambah lagi dengan bertawasul pada nama dan sifat Allah dan didahului dengan shodaqah, maka doa seperti ini hamper tidak akan ditolak selama-salamanya.” (<em>Al-Jawab Al-Kaafi,</em> hal 29-30).</p>
<p style="text-align:justify;">Adzan dan iqamah adalah perkara yang mudah dan sudah diketahui semua orang. Bagaimana tidak, adzan dan iqamah dikumandangkan lima kali sehari di masjid-masjid dan surau-surau. Namun pernahkah kita berfikir memanfaatkannya untuk berdoa?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Waktu Mustajab</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata diantara adzan dan iqamah ada waktu yang baik untuk berdoa. Diwaktu itu Allah akan mengabulkan seluruh doa hambaNya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menjelaskan dalam sabdanya,</p>
<p style="text-align:right;"><strong>الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Doa tidak akan ditolak diantara adzan dan iqamah.” </em> (HR Ahmad dan At-Tirmidzi dan disahihkan  Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 244).</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu ijabah ini tepatnya setelah adzan selesai muadzin mengumandangkan adzannya hingga iqamah, sebagaimana dijelaskan Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dalam Hadits Abdullah bin Amru yang berbunyi,</p>
<p style="text-align:right;"><strong>أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ »</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya seorang berkata, “Wahai Rasulullah ! sungguh para <em>muadzin</em> telah mengalahkan kami.” Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menjawab, <em>“Ucapkanlah sebagaimana mereka kumandangkan. Apabila kamu telah selesai maka mintalah, kamu pasti diberi.”</em> (HR. Abu daud dan dinilai sebagai hadits <em>hasan</em> oleh Al-Albani dalam <em>Shahih At-Targhib wa At-Tarhib</em> hadits no 256).</p>
<p style="text-align:justify;">Ada juga riwayat yang menjelaskan bahwa waktu itu adalah ketika adzan dikumandangkan, seperti dalam riwayat Sahal bin A’ad as-Saa’idi beliau berkata,</p>
<p style="text-align:right;"><strong>قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ : الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ عِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"> Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda, “<em>Dua hal yang tidak ditolak – atau hampir tidak ditolak- Doa ketika adzan dan peperangan sengit ketika sebagian mereka membunuh sebagaian lainnya.” </em> (HR Al-Haakim dan disahihkan Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jaami’</em> hadits no. 3079).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah kemurahan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> terhadap kita dengan memberikan waktu ijabah untuk doa yang sangat mudah yaitu ketika adzan dikumandangkan dan diantara adzan dan iqamah.  Siapakah diantara kita yang ingin memanfaatkannya untuk doa?</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kita semua diberikan taufiq oleh Allah dalam memanfaatkannya. <em>Wabillahi taufiq</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.<br />
Artikel <a href="http://www.ustadzkholidcom/" target="_blank">www.UstadzKholid.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syabaabussunnah.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syabaabussunnah.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syabaabussunnah.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syabaabussunnah.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/751/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/751/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/751/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=751&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/05/19/waktu-adzan-dan-iqamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Silaturahmi</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/04/19/keutamaan-silaturahmi/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/04/19/keutamaan-silaturahmi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 15:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=747</guid>
		<description><![CDATA[Silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=747&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia. Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. <span id="more-747"></span>Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya,</p>
<p style="text-align:center;">فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.</em>” (QS Muhammad 47:22-23).</p>
<p style="text-align:center;">وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.</em>” (QS An Nisaa’ 4:1).</p>
<p style="text-align:justify;">Juga sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> ,</p>
<p style="text-align:center;">مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>TAKHRIJ HADITS</strong><br />
Hadits ini di riwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul Adab, bab <em>Man Busitha Lahu Minar Rizqi Bi Shilatirrahim</em> (10/429). Muslim dalam Shahihnya, <em>Kitabul Birri Wal Shilah Wal Adab</em>, bab <em>Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha</em> (16/330). Abu Daud dalam Sunannya, kitab <em>Az Zakat</em>, <em>Bab Fi Shilaturrahmi</em> no. 1693, dengan lafadz,</p>
<p style="text-align:center;">مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturahim.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">At Tirmidzi dalam Jami’nya, no. 1865, Ibnu Majah dalam Sunannya no. 3663 dan Ahmad dalam Musnadnya sebanyak 10 riwayat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>MAKNA KOSA KATA HADITS</strong><br />
- الأَثَ bermakna ajal, karena dia ikuti kepada kehidupan dalam jejak-jejaknya, dan<br />
- بَسْطُ رِزْقِهِ bermakna dilapangkan dan diperbanyak, dikatakan pula bermakna berkah di dalamnya (yakni diberkahi rizkinya).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>FAIDAH HADITS</strong><br />
Hadits yang agung ini memberikan salah satu gambaran tentang keutamaan silaturahmi. Yaitu dipanjangkan umur pelakunya dan dilapangkan rizkinya.<br />
Adapun penundaan ajal atau perpanjangan umur, terdapat satu permasalahan; yaitu bagaimana mungkin ajal diakhirkan? Bukankah ajal telah ditetapkan dan tidak dapat bertambah dan berkurang sebagaimana firmanNya,</p>
<p style="text-align:center;">وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.</em>” (QS Al A’raf: 34).</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban para ulama tentang masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya,</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>. Yang dimaksud dengan tambahan di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>. Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak). Inilah makna firman Allah <em>Ta’ala</em> ,</p>
<p style="text-align:center;">يَمْحُو اللهُ مَايَشَآءُ وَيُثْبِتُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)</em>.” (QS Ar Ra’d:39).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian ini ditinjau dari ilmu Allah. Apa yang telah ditakdirkan, maka tidak akan ada tambahannya. Bahkan tambahan tersebut adalah mustahil. Sedangkan ditinjau dari ilmu makhluk, maka akan tergambar adanya perpanjangan (usia).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dan yang ketiga</strong>. Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji. Sehingga seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al Qadli, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil. <em>Wallahu a’lam</em>. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab <em>Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha</em> (16/114)]</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula Syaikhul Islam berkomentar tentang permasalahan ini dengan pernyataan beliau :<br />
Adapun firman Allah Ta’ala ,</p>
<p style="text-align:center;">وَمَايُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلاَيُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِ …..</p>
<p style="text-align:justify;">Arinya: “<em>Dan sekali-kali tidak diperpanjang umur seorang yang berumur panjang, dan tidak pula dikurangi umurnya…… </em>” (QS Fathir:11).</p>
<p style="text-align:justify;">Bermakna umur manusia tidak akan diperpanjang, dan tidak pula akan dikurangi. Adapun maksud diperpanjangan dan pengurangan disini, bermakna dua hal, yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>. Si fulan berumur panjang, sedangkan lainnya berumur pendek. Maka pengurangan umur di sini merupakan kekurangannya dibanding yang lainnya, sebagaimana orang yang panjang umurnya berumur panjang dan yang lain berumur pendek. Maka pengurangan umurnya menunjukkan dia lebih pendek dibandingkan yang pertama sebagaimana perpanjangan merupakan tambahan dibanding yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>. Bisa jadi makna kurang disini ialah kurang dari umur yang telah ditentukan, sebagaimana yang dimaksud dengan tambahan adalah tambahan dari umur yang telah ditentukan. Sebagaimana dalam Shahihain dari Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:center;">مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturahim.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian orang berkata, yang dimaksud adalah barakah dalam umurnya dengan beramal dengan waktu yang singkat sesuatu yang diamalkan oleh orang lain dalam waktu yang lama. Mereka beralasan, karena rizki dan ajal telah ditakdirkan dan ditentukan. Maka dikatakan kepada mereka, bahwa barakah tadi bermakna tambahan dalam amal dan manfaat. Padahal hal tersebut juga telah ditakdirkan. Bahkan ketentuan tersebut meliputi semua hal.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban yang benar ialah : Bahwa Allah telah menetapkan ajal hamba dalam catatan malaikat. Apabila ia menyambung silaturahim, maka akan ditambahkan pada apa yang tertulis dalam catatan malaikat tersebut. Jika ia melakukan amalan yang menyebabkan umurnya berkurang, maka akan dikurangkan dari apa yang telah tertulis tersebut. Pandangan ini berdasarkan apa yang ada dalam Sunan Tirmidzi dan lainnya dari Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> , beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">أَنَّ آدم لَمَّا طَلَبَ مِنَ اللهِ أَنْ يُرَيَهُ صُوْرَةَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ ذُرِّيَتِهِ فَأَرَاهُ إِيَاهُمْ فَرَأَى فِيْهِمْ رَجُلاً لَهُ بَصِيْصٌ فَقَالَ مَنْ هَذَا يَا رَبِّ؟ فَقَالَ ابْنُكَ دَاوُد فَقَالَ فَكَمْ عُمْرُهُ؟ قَالََ أَرْبَعِوْنَ سَنَةً قَالَ وَكَمْ عُمْرِيْ ؟ قَالَ أَلْفُ سَنَةٍ قَالَ فَقَدْ وَهَبْتُ لَهُ مِنْ عُمْرِي سِتِّينَ سَنَةً فَكَتَبَ عَلَيْهِ كِتَابٌ وَشَهِدَتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ فَلَمَّا حَضَرَتِ الْوَفَاةُ قَالَ قَدْ بَقِيَ مِنْ عُمْرِي سِتُُّوْنَ سَنَةً قَالُوْا قَدْ وَهَبْتَهَا لإِبْنِكَ دَاوُدَ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ فَأَخْرَجُوْا الْكِتَابَ قَالَ النَّبِيِّ : فنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ ذُرِّيَّتُهَُوَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Sesungguhnya Adam ketika meminta kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya wajah-wajah para nabi dari keturunannya, maka Allah pun memperlihatkannya. Kemudian dia melihat seorang laki-laki yang memiliki cahaya. Adam bertanya,”Ya Rabbi, siapakah ini?” Allah menjawab,”Anakmu, Daud.” Lalu beliau bertanya lagi,”Berapa umurnya?” Dijawab,”Umurnya 40 tahun” , beliau bertanya lagi,”Berapa umur saya?” Dijawab,”Seribu tahun”, Adam berkata,”Saya berikan enam puluh tahun umur saya kepadanya.” Maka ditulis atasnya suatu kitab yang disaksikan oleh malaikat. Sehingga ketika akan meninggal dia berkata,”Umur saya masih tersisa enam puluh tahun.” Malaikat menjawab,”Kamu telah memberikannya kepada anakmu Daud.” Lalu Adam mengingkarinya dan dikeluarkanlah kitab tadi. Nabi Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda, “Adam telah lupa, maka anak keturunannya pun (punya sifat) lupa. Dan Adam telah mengingkari, maka anak keturunannya pun (punya sifat) mengingkari.” </em>” [Riwayat Tirmidzi dalam tafsir Surat Al A’raf dan dia berkata,”Hadits ini hasan gharib dari jalan ini (11/196). Berkata Al Arnauth dalam <em>Jami’ul Ushul</em> (2/141). Diriwayatkan oleh Al Hakim, dan beliau menshahihkannya serta disepakati oleh Adz Dzahabi. Syeikh Al Albani menshahihkannya dalam <em>Shahihul Jami'</em> No. 5209]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan telah diriwayatkan, bahwa umur Adam disempurnakan. Demikian juga umur Daud telah ditetapkan empat puluh tahun, kemudian ditambah*) enam puluh tahun. Inilah makna perkataan Umar,”Ya Allah jika Engkau telah menulis, bahwa saya termasuk orang yang sengsara, maka hapuslah dan tulis saya sebagai orang yang berbahagia, karena Engkau menghapus apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan (apa yang Engkau kehendaki).” Allah telah mengetahui apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang belum terjadi, dan seandainya terjadi bagaimana cara terjadinya. Allah mengetahui apa yang telah ditulis bagi seorang hamba, dan apa yang akan ditambahkan kepadanya. Sedangkan para malaikat tidak mengetahui, kecuali apa yang telah Allah beritahukan kepada mereka. Allah mengetahui segala sesuatu sebelum dan sesudah terjadinya. Oleh karena itu para ulama mengatakan, bahwa penghapusan dan penetapan itu terjadi pada catatan malaikat. Adapun ilmu Allah, maka tidak akan berbeda dan tidak ada yang baru yang belum diketahuinya. Sehingga tidak ada penghapusan dan penetapan.[<em>Majmu’ Fatawa</em> Ibnu Taimiyyah (14/490)]<br />
[*) Barangkali yang benar adalah,“ditambah baginya” sebagai ganti dari “dijadikannya”, karena Adam as telah memberikan kepada Daud 60 tahun dari umurnya, sehingga umur Daud menjadi 100 tahun bukan 60 tahun]<br />
Berkata di tempat lain :<br />
Ajal itu ada dua. Ajal mutlak dan ajal <em>muqayyad</em>. Dengan ini maka jelaslah makna sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> ,</p>
<p style="text-align:center;">مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturrahim.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Karena Allah memerintahkan malaikat untuk menulis ajal seseorang, kemudian berfirman (yang artinya),“<em>Apabila dia menyambungkan silaturahmi, maka tambah sekian dan sekian</em>.” Dan malaikat tidak mengetahui, apakah akan ditambahkan ataukah tidak. Sedangkan Allah mengetahui apa yang akan terjadi. Sehingga apabila datang waktunya, maka tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan.[<em>Majmu’ Fatawa</em> Ibnu Taimiyyah (8/517)]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar <em>Rahimahullah</em> menjawab permasalahan ini, ”Berkata Ibnu Tin, ‘Secara lahiriah, hadits ini bertentangan dengan firman Allah,</p>
<p style="text-align:center;">وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.</em>” (QS Al A’raf:34).</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mancari titik temu kedua dalil tersebut dapat ditempuh melalui dua jalan. Pertama, tambahan (umur) yang dimaksud yaitu kinayah dari usia yang diberi berkah, karena mendapat taufiq (kemudahan) menjalankan ketaatan, menyibukkan waktunya dengan hal yang bermanfaat di akhirat, serta menjaga waktunya dari kesia-siaan. Hal ini seperti sabda Nabi <em>Shallallahu’Alaihi Wasallam</em> , bahwa umur umat ini lebih pendek dibandingkan umur umat-umat yang terdahulu. Tetapi kemudian Allah menganugerahi lailatul qadar (malam qadar).</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulannya, silaturahim dapat menjadi sebab mendapatkan taufiq (kemudahan) menjalankan ketaatan dan menjaga dari kemaksiatan. Sehingga namanya akan tetap dikenang. Seolah-olah seseorang itu tidak pernah mati. Dan di antara hal yang bisa mendatangkan taufiq, yaitu ilmu yang bermanfaat bagi orang setelahnya, shadaqah jariyah dan anak keturunan yang shalih.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, tambahan itu secara hakikat atau sesungguhnya. Hal itu berkaitan dengan ilmu malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Adapun yang ditunjukkan oleh ayat pertama di atas, maka hal itu berkaitan dengan ilmu Allah Ta’ala . Umpamanya dikatakan kepada malaikat, umur si fulan 100 tahun jika ia menyambung silaturahmi, dan 60 tahun jika ia memutuskannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ilmu Allah telah diketahui, bahwa fulan tersebut akan menyambung atau memutuskan silaturahim, maka yang ada dalam ilmu Allah tidak akan maju atau mundur, sedangkan yang ada dalam ilmu malaikat itulah yang mungkin bisa bertambah atau berkurang. Demikianlah yang diisyaratkan oleh firman Allah,</p>
<p style="text-align:center;">يَمْحُو اللهُ مَايَشآءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya-lah tedapat Ummul Kitab (Lauh Mahfudz).</em>” (QS Ar Ra’d:39).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, yang dimaksud dengan menghapuskan dan menetapkan dalam ayat itu ialah yang ada dalam ilmu malaikat. Adapun yang ada di Lauh Mahfuzh itu, merupakan ilmu Allah yang tidak akan ada penghapusan (perubahan) selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan <em>al qadha al mubram </em>(takdir atau putusan yang pasti). Sedangkan yang pertama (ilmu malaikat) disebut <em>al qadha al mu’allaq</em> (takdir atau putusan yang masih menggantung).</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama tampak lebih cocok dengan lafadz hadits di atas. Karena <em>al atsar</em> ialah sesuatu yang mengikuti yang lain. Apabila diakhirkan, maka menjadi baik untuk membawanya kepada keharuman nama setelah meninggalnya. Ath Thibbi berkata, ”Jalan yang pertama lebih jelas…” [<em>Fathul Bari</em>, <em>Kitabul Adab</em>, bab <em>Man Busitha Lahu Fir Rizqi Bi Shilatirrahim</em> (10/429)]</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan nukilan ini, jelaslah, bahwa para ulama <em>Rahimahumullah</em> mempunyai tiga pendapat dalam menafsirkan penambahan umur. Pendapat pertama, barakah. Pendapat kedua, perpanjangan hakiki atau sesungguhnya. Pendapat ketiga, keharuman nama setelah meninggalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, inti yang wajib kita jadikan jalan keluar dari perselisihan makna memanjangkan umur baik bermakna hakikat ataupun majaz (kiasan), yaitu memperpanjang umur tersebut dengan menggunakan dan menghabiskannya untuk mendapatkan tambahan kebaikan. Adapun seseorang yang panjang umurnya tetapi jelek amalannya, maka ia termasuk sejelek-jelek orang, sebagaimana sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam hadits Abu Bakrah <em>Radhiyallahu’anhu</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Keutamaan inipun dikuatkan dengan hadits Abdullah bin Mas’ud <em>Radhiyallahu’anhu</em> dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, yang berbunyi,</p>
<p style="text-align:center;">صِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ الْعُمُرَ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Silaturahim bisa menambah umur.</em>” [Dikeluarkan oleh Al Qadha’i dalam <em>Musnad Asy Syihab</em> dan dihasankan oleh Al Munawi dalam <em>Faidhul Qadir</em> (4/192) dan Al Albani menshahihkannya dalam <em>Shahihul Jami' </em>no. 3776]</p>
<p style="text-align:justify;">Keutamaan silaturahmi yang lainnya, dijelaskan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam banyak hadits. Diantaranya ialah :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>. Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam hadits Abu Hurairh, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:center;">وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.</em>” (Mutafaqun ‘alaihi).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>. Mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala . Sebagaimana sabda beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> ,</p>
<p style="text-align:right;">خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ فَقَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Allah menciptakan makhlukNya, ketika selesai menyempurnakannya, bangkitlah rahim dan berkata,”Ini tempat orang yang berlindung kepada Engkau dari pemutus rahim.” Allah menjawab, “Tidakkah engkau ridha, Aku sambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?” Dia menjawab,“Ya, wahai Rabb.”</em>” (Mutafaqun ‘alaihi).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Abi Jamrah berkata,“Kata ‘Allah menyambung’, adalah ungkapan dari besarnya karunia kebaikan dari Allah kepadanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Imam Nawawi menyampaikan perkataan ulama dalam uraian beliau,“Para ulama berkata, ‘hakikat shilah adalah kasih-sayang dan rahmat. Sehingga, makna kata ‘Allah menyambung’ adalah ungkapan dari kasih-sayang dan rahmat Allah.” [Lihat syarah beliau atas Shahih Muslim 16/328-329]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>. Silaturahmi adalah salah satu sebab penting masuk syurga dan dijauhkan dari api neraka. Sebagaimana sabda beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>“Dari Abu Ayub Al Anshari, beliau berkata, seorang berkata,”Wahai Rasulullah, beritahulah saya satu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam syurga.” Beliau </em><em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> <em> menjawab,“Menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan bersilaturahmi.””</em> (Diriwayatkan oleh Jama’ah).</p>
<p style="text-align:justify;">Silaturahmi adalah ketaatan dan amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, serta tanda takutnya seorang hamba kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), “<em>Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk</em>.” (QS Arra’d 13:21).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sebagian keutamaan silaturahim. Tentunya tidak seorangpun dari kita yang ingin melewatkan keutamaan ini. Apalagi bila melihat akibat buruk dan adzab pedih yang Allah Ta’ala siapkan bagi orang yang memutus tali silaturahim. Karenanya, orang-orang shalih dari pendahulu umat ini membiasakan diri menyambung silaturahim, walaupun sulit sarana komunikasi pada jaman mereka. Sedangkan pada zaman sekarang ini, dengan tercukupinya sarana transportasi dan komunikasi, semestinya membuat kita lebih aktif melakukan silaturahim. Kemudahan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita tersebut, hendaknya dipergunakan untuk silaturahim. Mungkin salah seorang dari kita melakukan perjalanan ke negeri yang jauh untuk wisata, akan tetapi dia merasa berat untuk mengunjungi salah seorang kerabatnya yang masih satu kota dengannya -kalau tidak saya katakan satu daerah dengannya- padahal paling tidak hubungan tersebut dapat dilakukan dengan hanya mengucapkan salam. Apa beratnya mempergunakan telepon untuk menghubungi salah satu kerabat kita dan mengucapkan salam kepadanya?</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu’anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:center;">بَلُوْا أَرحَامَكُمْ وَلَوْ بِالسَّلاَمِ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Sambunglah keluargamu meskipun dengan salam.</em>” [Riwayat Al Bazzar, Ath Thabrani dan Al Baihaqi. Berkata Al Munawi dalam Faidhul Qadir, “Berkata Al-Bukhari,’Semua jalannya dha’if, akan tetapi saling menguatkan (3/207)’.” Al Albani menghasankannya dalam <em>Shahihul Jami'</em> no. 2838]</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada yang mengatakan, di antara penyebab terputusnya silaturahmi ialah banyaknya kesibukan manusia pada hari ini dan keluasan wilayah. Tetapi orang yang memperhatikan keadaan semisal Abu Bakar dan Umar Al Faruq <em>Radhiyallahu’anhuma</em> . Pada masa pemerintahannya, meskipun banyak beban yang harus dipikul di pundak mereka dan belum lengkapnya sarana transformasi dan komunikasi modern, akan tetapi mereka tetap memiliki waktu untuk mengunjungi kerabatnya dan membantu tetangganya. Sedangkan diri kita sering mengunjugi dan bercengkrama dengan sahabat-sahabat, tetapi tidak pernah memasukkan ke dalam agenda kegiatan untuk berkunjung ke salah satu kerabat, meskipun satu kali dalam sebulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tampaknya sebab utama yang menghalangi kita bersilaturahim, karena buruknya pengaturan dan manajemen waktu. Atau karena kita kurang begitu mengerti besarnya dosa memutus silaturahim. Kemudian dengan kesibukan yang berlebihan dalam kehidupan dunia,. hingga kita mendapati seseorang bekerja pada pagi hari. Setelah itu menyibukkan diri dengan pekerjaan lain pada sisa harinya. Padahal sudah berkecukupan dalam hal rizki. Lantas, mengabaikan hak-hak keluarga, anak-anak, kedua orang tua dan kerabatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka sepatutnyalah engkau, wahai saudaraku muslim. Hendaklah bersemangat memanjangkan umurmu dengan bersilaturahim. Ketahuilah, barangsiapa yang menyambungnya, niscaya Allah Ta’ala akan berhubungan dengannya. Dan barangsiapa memutuskannya, maka Allah pun akan memutuskan hubungan dengannya. [Untuk tambahan, lihat kitab <em>Al Adab Asy Syar’iyyah Wal Minah Al Mur’iyyah</em>, oleh Ibnu Muflih, Juz 1 dan kitab <em>Shilaturrahim Fadluha Ahkamuha Itsmu Qathi’iha</em>, oleh Syaikh Muhammad Thabl dan Ibrahim Muhammad]</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan risalah ini dapat mendorong kita semua untuk bersilaturahmi.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syabaabussunnah.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syabaabussunnah.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syabaabussunnah.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syabaabussunnah.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/747/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=747&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/04/19/keutamaan-silaturahmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FENOMENA TAHDZIR, CELA-MENCELA SESAMA AHLUSSUNNAH DAN SOLUSINYA</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/03/22/fenomena-tahdzir-cela-mencela-sesama-ahlussunnah-dan-solusinya/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/03/22/fenomena-tahdzir-cela-mencela-sesama-ahlussunnah-dan-solusinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 04:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masaa-il]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=744</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr &#160; Pada masa sekarang ini, ada sebagian ahlussunnah yang sibuk menyerang ahlussunnah lainnya dengan berbagai celaan dan tahdzir. Hal tersebut tentu mengakibatkan perpecahan, perselisihan dan sikap saling tidak akur. Padahal mereka saling cinta mencintai dan saling berkasih sayang, serta bersatu padu dalam barisan yang kokoh untuk menghadapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=744&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa sekarang ini, ada sebagian ahlussunnah yang sibuk menyerang ahlussunnah lainnya dengan berbagai celaan dan tahdzir. Hal tersebut tentu mengakibatkan perpecahan, perselisihan dan sikap saling tidak akur.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal mereka saling cinta mencintai dan saling berkasih sayang, serta bersatu padu dalam barisan yang kokoh untuk menghadapi para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlussunnah.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya Fenomena Diatas Disebabkan Dua Hal:<span id="more-744"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pertama.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebagian ahlussunnah pada masa sekarang ini yang menyibukkan diri mencari-cari kesalahan ahlussunnah lainnya dan mendiskusikan kesalahan tersebut, baik yang terdapat di dalam tulisan maupun kaset-kaset. Kemudian dengan bekal kesalahan-kesalahan tersebut mereka melakukan tahdzir terhadap ahlussunnah yang menurut mereka melakukan kesalahan.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu sebab mereka melakukan tahdzir adalah karena ada Ahlussunnah lain yang bekerjasama dengan salah satu yayasan yang bergerak dalam bidang keagamaan untuk mengadakan ceramah-ceramah atau seminar-seminar keagamaan. Padahal Syaikh abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah memberikan ceramah kepada pengurus yayasan keagamaan tersebut melalui telepon. Dan kerjasama Ahlussunnah lain dengan yayasan tersebut sebenarnya sudah dinyatakan boleh oleh dua ulama besar itu dengan fatwa.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, hendaknya mereka introspeksi terhadap diri mereka terlebih dahulu sebelum menyalahkan dan mencela pendapat orang lain; apalagi tindakan ahlussunnah lain tadi bersumber dari fatwa ulama besar. Anjuran introspeksi diri seperti ini pernah disampaikan oleh sebagian Sahabat Rasulullah setelah dilangsungkannya perjanjian Hudaibiyah. Sebagian sahabat ada yang berkata, “Wahai Manusia, hendaklah kalian mau introspeksi diri agar tidak menggunakan akal kalian dalam masalah agama.”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Amat disayangkan, padahal mereka yang dicela itu telah banyak membantu masyarakat, baik melalui pelajaran-pelajaran yang disampaikan, karya-karya tulis, maupun khotbah-khotbahnya. Mereka di-tahdzir hanya dikarenakan tidak membicarakan tentang si Fulan atau jamaah tertentu. Sayang sekali memang, fenomena cela mencela dan tahdzir ini telah merembet ke negeri Arab. Ada di antara mereka yang terkena musibah ini yang memiliki keilmuan yang luas dan memiliki usaha yang keras dalam menampakkan, menyebarkan dan menyeru kepada Sunnah. Tidak diragukan lagi bahwa tahdzir terhadap mereka telah menghalangi jalan bagi para penuntut ilmu dan orang-orang yang hendak mengambil manfaat dari mereka, baik dari sisi ilmu maupun ahlak.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebagian Ahlussunnah yang apabila melihat kesalahan Ahlussunnah lain, maka mereka menulis bantahannya, lalu pihak yang dibantah membalas bantahan tersebut dengan bantahan yang serupa. Pada akhirnya kedua belah pihak sibuk membaca tulisan-tulisan pihak lawan atau mendengarkan kaset-kaset, yang lama maupun yang baru, dalam rangka mencari kesalahan dan kejelekkan lawannya, padahal boleh jadi kesalahan-kesalahan tadi hanya disebabkan karena terpeleset lidah. Semua itu mereka kerjakan secara perorangan atau secara berkelompok. Kemudian tiap-tiap pihak berusaha untuk memperbanyak pendukung yang membelanya dan merendahkan pihak lawannya. Kemudian para pendukung di tiap pihak berusaha keras membela pendapat pihak yang didukungnya dan mencela pendapat pihak lawannya. Merekapun memaksa setiap orang yang mereka temui untuk mempunyai sikap yang jelas terhadap orang-orang yang berada di pihak lawan.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila orang tersebut tidak mau menunjukkan sikapnya secara jelas, maka dia pun dianggap masuk sebagai kelompok ahli bid’ah seperti kelompok lawannya. Sikap tersebut biasanya diikuti dengan sikap tidak akur satu pihak dengan pihak lainnya. Tindakan kedua belah pihak serupa dengan itu merupakan pangkal muncul dan tersebarnya konflik pada skala yang lebih luas. Dan keadaan bertambah parah, karena pendukung masing-masing kelompok menyebarkan celaan-celaan tersebut di jaringan internet, sehingga para pemuda ahlussunnah di berbagai negeri, bahkan lintas benua menjadi sibuk mengikuti perkembangan di website masing-masing pihak. Berita yang disebarkan oleh masing-masing pihak hanyalah berita-berita qila wa qala saja, tidak jelas sumbernya, dan tidak mendatangkan kebaikan sedikit pun, bahkan hanya akan membawa kerusakan dan perpecahan. Sikap yang dilakukan para pendukung masing-masing pihak seperti orang yang bolak balik di papan pengumuman untuk mengetahui berita terbaru yang ditempel. Mereka juga tidak ubahnya seperti supporter olahraga yang saling menyemangati kelompoknya. Permusuhan, kekacauan dan perselisihan sesama mereka merupakan akibat dari dihasilkan sikap-sikap seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Solusi Permasalahan Ini</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Ada Beberapa Solusi Yang Bisa Diketengahkan Dalam Permaslahan Ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan cela mencela dan tahdzir perlu diperhatikan beberapa perkara sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[1] Orang-orang yang sibuk mencela ulama dan para penuntut ilmu hendaknya takut kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dengan tindakkannya tersebut. Mereka hendaknya lebih menyibukkan diri memperhatikan kejelekkan dirinya sendiri agar bisa terbebas dari kejelekan orang lain. Mereka hendaknya berusaha menjaga kekalnya kebaikan yang dia miliki. Janganlah mereka mengurangi amal kebaikan mereka walaupun sedikit, yaitu dengan membagi-bagikannya kepada orang-orang yang dia cela. Hal itu karena mereka lebih membutuhkan kebaikan tersebut dibanding yang lain pada hari dimana harta dan anak-anak takkan berguna kecuali orang yang datang kepada Allah Ta’ala dengan hati yang selamat. [Maksudnya pada hari kiamat, -pen]</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[2] Hendaknya mereka berhenti melakukan cela-mencela dan tahdzir, lalu menyibukkan diri memperdalam ilmu yang bermanfaat; bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agar bisa manfaat dari ilmu tersebut dan menyampaikannya kepada orang lain yang membutuhkannya. Hendaknya mereka menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan, baik dengan belajar mengajar, berdakwah atau menulis. Semua itu jelas lebih membawa kebaikan. Jika mereka melakukan tindakan-tindakan yang baik seperti itu, tentu mereka dikatakan sebagai orang-orang yang membangun. Jadi, janganlah mereka sibuk mencela sesama ahlussunnah, baik yang ulama maupun penuntut ilmu, karena hal itu akan menutup jalan bagi orang-orang yang mendapatkan manfaat keilmuan dari mereka. Perbuatan-perbuatan seperti itu adalah temasuk perbuatan-perbuatan yang merusak. Orang-orang yang sibuk dengan tindakan cela-mencela seperti itu, setelah mereka meninggal tidak meninggalkan bekas ilmu yang bermanfaat, dan manusia tidak merasa kehilangan para ulama yang ilmunya bermanfaat bagi mereka, bahkan sebaliknya, dengan kematian mereka manusia merasa selamat dari keburukan.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[3] Para penuntut ilmu dari kalangan ahlussunnah hendaknya menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan seperti membaca buku-buku yang bermanfaat, mendengarkan kaset-kaset ceramah para ulama ahlussunnah seperti Syaikh bin Baz, Syaikh Ibnu Utsiamin, daripada sibuk menelepon fulan atau si Fulan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Fulan atau Fulan?” atau “Bagaimana komentarmu tentang pernyataan Fulan terhadap si Fulan dan tanggapan si Fulan terhadap si Fulan?”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[4] Berkaitan dengan pertanyaan tentang orang-orang yang sibuk dalam bidang keilmuan, mereka boleh dimintai fatwa atau tidak, selayaknya hal tersebut ditanyakan kepada pimpinan Lembaga Fatwa di Riyadh. Dan siapa yang mengetahui keadaan mereka, hendaknya mau melayangkan surat kepada pimpinan Lembaga Fatwa yang berisi penjelasan tentang keadaan mereka untuk dijadikan bahan pertimbangan. Hal itu dimaksudkan agar sumber penilaian cacat seseorang dan tahdzir, apabila memang harus dikeluarkan, maka yang mengeluarkan adalah lembaga yang berkompeten dalam masalah fatwa dan berwenang menjelaskan tentang siapa-siapa yang dapat diambil ilmunya dan dimintai fatwa. Tidak diragukan lagi bahwa lembaga yang dijadikan sebagai rujukan fatwa dalam berbagai permasalahan, juga selayaknya dijadikan sebagai sumber rujukan untuk mengetahui siapa yang boleh dimintai fatwa dan diambil ilmunya. Hendaknya janganlah seseorang menjadikan dirinya sebagai tempat rujukan dalam perkara yang sangat penting ini, karena sesungguhnya termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan cara membantah orang yang melakukan kekeliruan pendapat perlu diperhatikan beberapa perkara sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[1] Hendaknya bantahan tersebut dilakukan dengan penuh keramahan dan kelemah-lembutan disertai keinginan yang kuat untuk menyelamatkan orang yang salah tersebut dari kesalahannya, apabila kesalahannya jelas terlihat. Selayaknya seseorang yang hendak membantah pendapat orang lain merujuk bagaimana cara Syaikh bin Baz tatkala melakukan bantahan, untuk kemudian diterapkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[2] Apabila kesalahan orang yang dibantah tadi masih samar, mungkin benar atau mungkin juga salah, maka selayaknya masalah tersebut dikembalikan kepada pimpinan Lembaga Fatwa untuk diberi keputusan hukumnya. Adapun apabila kesalahannya jelas, maka wajib bagi orang yang dibantah tersebut untuk meninggalkannya. Kerena kembali kepada kebenaran adalah lebih baik dari pada tetap tenggelam dalam kebatilan.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[3] Apabila seseorang telah membantah orang lain, maka berarti dia telah menunaikan kewajiban dirinya, maka hendaknya dia tidak menyibukkan diri mengikuti gerak-gerik orang yang dibantah. Sebaliknya, dia selayaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun orang lain. Begitulah sikap yang dicontohkan oleh Syaikh bin Baz.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[4] Seorang penuntut ilmu tidak diperbolehkan mengajak orang lain serta memaksanya untuk memilih si Fulan (yang dibantah) atau ikut dia (yang membantah); apabila sepakat dengannya maka dia selamat; namun apabila tidak sepakat maka di bid’ahkan dan diboikotnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak boleh seorang pun menisbatkan fenomena tabdi’ (pembid’ahan) dan hajr (pemboikotan) yang kacau seperti ini sebagai manhaj Ahlussunnah. Dan siapapun tidak diperbolehkan menggelari orang yang tidak menempuh jalan yang ngawur ini sebagai orang yang tidak bermanhaj salaf. Boikot (hajr) yang dilakukan dalam manhaj Ahlussunnah adalah boikot yang memberikan manfaat bagi orang yang diboikot, seperti boikot seorang bapak pada anaknya, Syaikh kepada muridnya, dan boikot dari pihak yang memiliki kedudukan dan derajat yang lebih tinggi kepada orang-orang yang menjadi bawahannya. Boikot-boikot seperti itu akan memberikan manfaat bagi orang yang diboikot. Namun apabila boikot itu bersumber dari dari seorang penuntut ilmu kepada penuntut ilmu yang lain, lebih-lebih pada perkara yang tidak selayaknya seseorang diboikot, maka boikot seperti itu tidak manfaat sedikit pun bagi orang yang diboikot, tetapi malah akan menimbulkan permusuhan, saling membelakangi dan saling menghalangi.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa (III/413-414) ketika beliau berbicara tentang Yazid bin Mu’awiyah. Beliau berkata, “Pendapat yang benar adalah pendapat yang dikemukakan oleh para imam, yaitu bahwa Yazid bin Mu’awiyah tidak perlu dicintai secara khusus, namun juga tidak boleh dilaknat. Meskipun dia seorang yang fasiq atau zalim, mudah-mudahan Allah mengampuni orang yang fasiq dan zalim, terlebih lagi dia telah melakukan kebaikan yang besar.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah pernah bersabda.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“Pasukan pertama yang memerangi tentara Konstatin akan diampuni dosa-dosanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pasukan pertama yang memerangi tentara Konstatin dipimpin oleh Yazid bin Mu’awiyah, dan Abu Ayyub Al-Anshari ikut dalam pasukan tersebut. Oleh karena itu, selayaknya kita bersikap adil dalam permasalahan tersebut. Kita tidak boleh mencela Yazid bin Mu’awiyah dan memata-matai seseorang dalam bersikap terhadapnya, karena sikap seperti itu adalah bid’ah yang bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab yang sama (III/415), beliau juga berkata, “Sikap seperti itu juga akan memecah belah umat Islam. Disamping itu, sikap itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (XX/164), “Tidak boleh seorang pun menjadikan orang lain sebagai figur yang harus diikuti dan sebagai standar dalam berteman atau bermusuhan selain Rasulullah. Tidak diperkenankan pula seseorang menjadikan sebuah perkataan pun sebagai barometer untuk berteman dan bermusuhan selain perkataan Allah dan Rasul-Nya serta ijma’ kaum muslimin. Cara-cara seperti ini adalah termasuk perbuatan ahli bid’ah. Para ahli bid’ah biasa menjadikan figur atau sebuah perkataan sebagai tolak ukur. Mereka berteman ataupun bermusuhan dengan dasar perkataan atau figure tersebut. Akhirnya hanya memecah-belah umat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Para pendidik tidak boleh mengkotak-kotakkan umat Islam, dan melakukan perbuatan yang hanya akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Bahkan yang seharusnya dilakukan adalah saling menolong atas dasar kebaikan dan takwa, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al-Maidah: 2]</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh Ibnu Rajab ketika menjelaskan hadist: Beliau berkata, “Termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tak berguna baginya.”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al ‘Hikam (I/288), beliau berkata, “Hadist ini merupakan landasan penting dalam masalah adab. Imam Abu Amru bin Ash Shalah menceritakan bahwa Abu Muhammad bin abu Zaid, salah seorang imam Madzhab Malik pada zamannya, pernah berkata: “Adanya berbagai macam adab kebaikan bercabang dari empat hadist, yaitu hadist Rasulullah:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa yang beriman dengan Allah Ta’ala dan hari akhirat hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau (kalau tidak bisa) lebih baik diam.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu hadits:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“Salah satu ciri baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu hadist Rasulullah yang mengandung wasiatnya yang singkat:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan marah,”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian yang terakhir hadist:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“Seorang mukmin mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya Berkata :</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa perlunya para penuntut ilmu dengan adab-adab diatas, karena adab-adab tersebut jelas akan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Para penuntut ilmu juga perlu menjauhi sikap dan kata-kata yang kasar yang hanya akan membuahkan permusuhan, perpecahan, saling membenci dan mencerai-beraikan persatuan.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi kewajiban bagi setiap penuntut ilmu untuk menasehati dirinya sendiri agar berhenti mengikuti tulisan-tulisan di internet yang memuat komentar kedua belah pihak dalam masalah ini. Hendaknya mereka memanfaatkan dan memperhatikan website yang lebih bermanfaat seperti website milik Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang berisi telaah pembahasan-pembahasan ilmiah keagamaan dan fatwa-fatwa beliau yang sampai sekarang telah mencapai dua puluh satu jilid. Website lain yang lebih bermanfaat untuk mereka lihat adalah website Fatwa Lajnah Daimah yang sampai kini telah mencapai dua puluh jilid; begitu pula website Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang berisi telaah kitab-kitab dan fatwa-fatwanya yang banyak dan luas.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir &amp; Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><a rel="nofollow" href="http://almanhaj.or.id/content/980/slash/0" target="_blank">http://almanhaj.or.id/content/980/slash/0</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syabaabussunnah.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syabaabussunnah.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syabaabussunnah.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syabaabussunnah.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/744/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=744&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/03/22/fenomena-tahdzir-cela-mencela-sesama-ahlussunnah-dan-solusinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berlomba-Lomba Di Shaf Pertama</title>
		<link>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/03/14/berlomba-lomba-di-shaf-pertama/</link>
		<comments>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/03/14/berlomba-lomba-di-shaf-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 11:02:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syabaabussunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syabaabussunnah.wordpress.com/?p=739</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Seringkali kita meremehkan meraih kebaikan. Bahkan merasa tidak mengapa jika dikalahkan oleh saudara kita. Padahal dalam berbagai ayat kita diperintahkan untuk bersegera melakukan kebaikan dan ketaatan serta berlomba-lomba di dalamnya. Begitu pula dalam berbagai hadits kita diperintahkan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=739&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali kita meremehkan meraih kebaikan. Bahkan merasa tidak  mengapa jika dikalahkan oleh saudara kita. Padahal dalam berbagai ayat  kita diperintahkan untuk bersegera melakukan kebaikan dan ketaatan serta  berlomba-lomba di dalamnya. Begitu pula dalam berbagai hadits kita  diperintahkan untuk menjadi terdepan.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align:center;">فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.</em>” (QS. Al Ma’idah: 48)</p>
<p style="text-align:center;">وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada  surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk  orang-orang yang bertakwa</em>.” (QS. Ali Imron: 133)<span id="more-739"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Lihat pula bagaimanakah perkataan salafush sholeh yang memotivasi  kita bisa menjadi number one dalam kebaikan dan harusnya sedih jika  memang dikalahkan oleh yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Hasan Al Bashri mengatakan,  “<em>Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Wahib bin Al Warid mengatakan, “<em>Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian salaf lagi mengatakan, “<em>Seandainya seseorang mendengar  ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya  dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Yang Bisa Dipraktekkan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang bisa kita praktekkan secara sederhana setiap harinya adalah  terdepan dalam shaf pertama dalam shalat Jama’ah. Ini khusus bagi pria.</p>
<p style="text-align:center;">خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah shaf pertama, yang  paling jelek adalah shaf terakhir. Sedangkan shaf yang terbaik bagi  wanita adalah shaf terakhir, yang paling jelek adalah shaf pertama  (karena semakin dekat dengan kaum laki-laki, pen)</em>”.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh ‘Abdul Karim Khudair mengatakan, “Maksud hadits ini adalah  bahwa shaf laki-laki yang utama adalah shaf yang pertama, kemudian baru  shaf yang berikutnya hingga shaf yang terakhir. Shaf yang paling jelek  adalah shaf yang sedikit ganjarannya karena semakin jauh dari imam. Shaf  terakhir ini diperoleh karena seringkali telat dalam menghadiri shalat  jama’ah dan selalu mengakhirkan panggilan shalat berjama’ah. Sedangkan  yang berada di shaf pertama itulah yang lebih bersegera dalam memenuhi  panggilan shalat jama’ah. Jika seseorang melakukan shalat berjama’ah dan  lebih dekat dengan imam, tentu itu akan lebih mempengaruhi shalatnya.  Apalagi jika dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaannya). Apalagi  pula dalam shalat shubuh. Dalam shalat tersebut lebih akan disimak  bacaannya tentunya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh <em>hafizhohullah</em> selanjutnya menjelaskan, “Dalam hadits  tersebut dikatakan bahwa sebaik-baik shaf bagi pria adalah shaf pertama.  Namun seringkali kita lihat sebagian orang datang melaksanakan shalat  berjama’ah, namun malah duduk-duduk di shaf belakang. Sampai ketika  iqomah dikumandangkan, dia hanya mendapati shaf keempat atau kelima.  Padahal sebenarnya ia mampu berada di shaf pertama.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam masalah dunia, kita bisa mendahulukan orang lain, itu memang  yang lebih baik. Karena dalam masalah dunia, kita harus memperhatikan  orang di bawah kita agar kita bise mensyukuri nikmat Allah.</p>
<p style="text-align:center;">إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki  kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang  yang berada di bawahnya</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Namun dalam masalah akhirat, jangan sampai seperti itu. Dalam hadits disebutkan,</p>
<p style="text-align:center;">لَوْ يَعْلَمُ  النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا  إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama,  kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan  memperebutkannya dengan berundi</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jika seseorang dalam perkara sederhana seperti ini sudah  berlomba-lomba menjadi yang terdepan, maka dengan pembelajaran seperti  ini ia tentu tidak mau kalah dalam masalah akhirat lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga dengan risalah ringkas ini membuat kita semakin semangat dalam ketaatan dan berlomba-lomba menjadi yang terdepan. <em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Riyadh-KSA, 7 Rabi’uts Tsani 1432 H (12/03/2011)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/"><span style="color:#000000;">www.rumaysho.com</span></a></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<hr />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Latho-if Ma’arif, </em>hal. 268</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim no. 440.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftnref3">[3]</a> Dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdul Karim Khudair dalam Syarh Al Muharror,  Kitab Ash Sholah (37). Lihat pada link:  http://www.khudheir.com/text/5470</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3368-berlomba-lomba-di-shaf-pertama.html#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syabaabussunnah.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syabaabussunnah.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syabaabussunnah.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syabaabussunnah.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syabaabussunnah.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syabaabussunnah.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syabaabussunnah.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syabaabussunnah.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syabaabussunnah.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syabaabussunnah.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syabaabussunnah.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syabaabussunnah.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syabaabussunnah.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syabaabussunnah.wordpress.com/739/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syabaabussunnah.wordpress.com&amp;blog=2190719&amp;post=739&amp;subd=syabaabussunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syabaabussunnah.wordpress.com/2011/03/14/berlomba-lomba-di-shaf-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ac2056e54eba1686c0df13ec642daa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syabaabussunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
